Friday, November 28, 2008

AC Nielsen: Televisi Tak Usah Khawatir Dengan Internet!

Sumber: Tribun Timur, Makassar

Sabtu, 01-11-2008 | 23:20:04 
AC Nielsen: Televisi Tak Usah Khawatir Dengan Internet!
Laporan: Widyabuana. tribuntimurcom@yahoo.com
 
Sudah saatnya bujet iklan perusahaan dialokasikan untuk melakukan promosi di internet. Sebuah survey yang dilakukan AC Nielsen menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari pengguna internet juga menonton televisi ketika sedang melakukan browsing. Demikian dilansir Reuters.
 
Dalam fakta yang ditemukan oleh AC Nielsen, bahwa penggila internet adalah penonton fanatik dari televisi. Mereka menghabiskan sekitar 250 menit setiap hari di depan televisi dan bandingkan dengan penonton televisi yang tak pernah berselancar di internet dan hanya menghabiskan waktunya selama 220 menit di depan televisi.

Hasil ini merupakan kabar menarik bagi televisi yang khawatir dengan kehadiran dari internet akan membuat penonton televisi berkurang bahkan hilang. Ini juga akan menolong sebuah penjelasan adanya kekuatan media baru yang berjalan seimbang dengan penonton televisi.

"Televisi memang membutuhkan investasi waktu yang banyak dan di satu sisi ada banyak orang- orang yang juga menggunakan internet dan di mana waktu lebih banyak dihabiskan, ini adalah jawaban dari apa yang sedang terjadi," kata juru bicara Nielsen, Gary Holmes.

Laporan ini menggunakan sampel dari 3.000 orang dari lebih 1.000 rumah tangga selama periode Mei. Laporan ini juga tidak melakukan perbedaan dari tipe internet yang digunakan oleh para penonton televisi meski rata-rata yang dilakukan oleh pengguna internet adalah melakukan pencarian, membaca email, dan melakukan komunikasi teks, serta berbelanja secara online. (*)

Tribun Timur, Selalu yang Pertama

Ada peristiwa menarik?
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233
email: tribuntimurcom@yahoo.com

Hotline SMS untuk berlangganan koran Tribun
Timur, Makassar (edisi cetak) : 081.625.2266.
Telepon: 0411 (8115555) (wid)


--
Tribun Timur,
Surat Kabar Terbesar di Makassar
http://www.tribun-timur.com

FORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR
tribun.freeforums.org

Usefull Links:

http://jurnalisme-makassar.blogspot.com
http://jurnalisme-tv.blogspot.com
http://jurnalisme-radio.blogspot.com
http://jurnalisme-blog.blogspot.com
http://makassar-updating.blogspot.com
http://makassar-bugis.blogspot.com

Tuesday, November 4, 2008

WELCOME TO TELEVISINDO TV
Nonton tv STREAMING ONLINE indonesia dan internasional gratis
Watch TV STREAMING ONLINE indonesian and international free
Best site view with Mozilla Firefox , 1024 x 768 Monitor resolution



www.televisindo.us

www.televisindo.us.tc

www.televisindo.co.cc




untuk menonton siaran TV disini anda harus menginstal plugin
to watch TV broadcasts here you need to install the plugin

 Real Audio Web Video Quick Time Web Video Macromedia flash player  web video watch live internet tv windows media microsoft webtv




klik di bawah ini untuk memilih channel
click below to select channel

CHANNEL TV BY CATEGORIES :





CHANNEL TV LOKAL
RCTI | SCTV | GLOBAL TV | ANTV | METRO TV | TRANS TV | TV ONE | TRI TV | FAJAR TV
SPACE TOON | CAHAYA TV | DAAI TV| LAWAK INDONESIA | FILM INDONESIA | RADIO ONLINE + INDONESIA MUSIC HITS + LAGU INDONESIA LAWAS


CHANNEL TV INTERNATIONAL
VOA| FASHION TV | USA | CHV| AL MUSTAKILLAH | ALKASS | K1 | BEACH TV | NDTV | FRANCE 24
TOM GREEN | NEWS X| MILENIA TV |DUNYA TV | RTVA | CHANNEL 5 | TELE | OLTENIA | CINEMAX
HBO | STAR SPORTS | N- TV | INTER TV| ARENABOLA.COM | MOVIES 24/7 | VTV 3 | HTV 7
TVI | WORLD TV CHANNEL

ANIME/CARTOON
MAHALO GAME TV | EA GAMES TV | TOM & JERRY | Cartoon channel TV mix | Cartoons for all TV
24 Hour Anime TV | Dragonballz | South Park | The Simpsons | SHINCHAN BAHASA INDONESIA
SAINT SEIYA

SCIENCE
NASA TV - Media Channel | NASA TV - Public Channel | Hurricane TV | wild life channel

SPORT
Telecapri Sport |Serie A TV |Manchester TV |Barca TV |Chelsea TV |MLB Basseball TV |NBA TV
JTV SPORTS

MUSIC
Trance music |SONY Music JAPAN |Oh!sama TV JAPAN King Records |WIM TV |Ibiza On TV |
Mezz Rock TV |RockTV Hard n Heavy

LIFESTYLE
fashionguide tv | beach tv | CALENDARI tv |ford models tv |fashion channel tv

MOVIES
classic-movies 1 | classic-movies 2 | HORROR 1 | HORROR 2 | ASIAN HORROR MOVIES
BOLLYWOOD TV | MR BEANS|ASIAN MOVIES/DRAMA ETC | MOVIES 24/7 | HBO ETC + JTV MOVIES

WEBCAMS
ANIMAL CAM 1 | ANIMAL CAM 2

Wednesday, September 10, 2008

Wapres Desak Penataan Kepemilikan Televisi

Sumber: tribun-timur.com
Senin, 17-03-2008 | 16:43:59 
Wapres Desak Penataan Kepemilikan Televisi
Laporan: Persda Network/ade, tribuntimurcom@yahoo.com
 
Jakarta, Tribun -- Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mendesak pengurus Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk melihat sejauhmana kepemilikan televisi di Indonesia yang dituding dimiliki secara monopoli oleh segelintir orang atau kelompok orang.
 

"Beliau (Wapres) melihat itu agar ditata, dilihat lebih jernih lalu ditertibkan sehingga nanti bisa ketahuan apakah ada monopoli, crossownership (kepemilikan silang)," kata Koordinator Bidang Perijinan KPI Don Bosco Selamon usai bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wapres, Jakarta, Senin (17/3).

Pernyataan untuk menata media telivisi mencuat setelah KPI memberikan laporan yang menilai adanya kepemilikan media telivisi di tangan seseorang atau kelompok orang.

Meski mencium ada ketidakberesan, KPI belum bisa memutuskan apakah kepemilikan televisi di tangan seseorang atau kelompok orang tersebut merupakan sinergi, pemusatan atau monopoli, dan kepemilikan silang. Dalam 2-3 bulan ke depan, KPI akan mengupas ihwal kepemilikan televisi.

"Itu sedang dibicarakan dengan Departemen Kominfo dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)," tandas Don Bosco.

Selain melaporkan hal tersebut, KPI berencana akan memberikan KPI award kepada sejumlah televisi yang memiliki program acara terbaik untuk masyarakat.

Terbagi dalam lima kategori, yakni program dokumenter, talkshow, investigasi, anak-anak dan sinetron lepas, KPI award pada Selasa (18/3) malam di bilangan hotel Jakarta. Dan menurut rencana, Kalla akan turut memeriahkan acara yang disiarkan salah satu televisi nasional teranyar.(*)


--
Tribun Timur,
Surat Kabar Terbesar di Makassar
http://www.tribun-timur.com

FORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR
tribun.freeforums.org

Usefull Links:

http://jurnalisme-makassar.blogspot.com
http://jurnalisme-tv.blogspot.com
http://jurnalisme-radio.blogspot.com
http://jurnalisme-blog.blogspot.com
http://makassar-updating.blogspot.com
http://makassar-bugis.blogspot.com

Monday, September 1, 2008

Makan Sahur Ditemani Sambalu Makassar TV

Sumber: Tribun Timur, Makassar

Senin, 01-09-2008 | 21:46:21 
Makan Sahur Ditemani Sambalu Makassar TV
Laporan: ina maharani. totoro785@yahoo.com
 
Makassar, Tribun - Berbagai program baru dihadirkan televisi swasta lokal Makassar Makassar TV. Menyambut Ramadan ini, salah satu program terbaru mereka adalah Sambalu Sahur. Program ini tayang selama dua jam setiap hari pukul 03.00 - 05.00 wita dini hari.
 
Dalam program yang dihadirkan untuk menemani waktu sahur ini, penonton bisa menelpon untuk berkirim salam sambil memilih lagu yang akan diputar.

Program lain selama Ramadan yakni Kupilih Jalanmu (10.00 wita), Musik Ramadan (12.30 wita), Pesantren Ramadan (16.00 wita), Ramadan Kita (16.30 wita) dan Sambalu Ramadan (17.30 wita).

Sejumlah program juga mengalami pindah tayang, yakni Makassar Pagi (08.00 wita), Laguna (Senin-Selasa 15.00 wita), Patontonganta (Rabu 15.00 wita), Halo Bohusami (Kamis 14.30 wita), Nihaoma (Jumat 14.00 wita), dan Nyamanna (Minggu 19.00 wita).(*)


--
Tribun Timur,
Surat Kabar Terbesar di Makassar
http://www.tribun-timur.com

FORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR
tribun.freeforums.org

Usefull Links:

http://jurnalisme-makassar.blogspot.com
http://jurnalisme-tv.blogspot.com
http://jurnalisme-radio.blogspot.com
http://jurnalisme-blog.blogspot.com
http://makassar-updating.blogspot.com
http://makassar-bugis.blogspot.com

Tuesday, August 19, 2008

Spirit Cianjur untuk Televisi Kabel

Sumber: Tribun Timur, Makassar
Rabu, 27-02-2008 
Spirit Cianjur untuk Televisi Kabel
Opini Tribun
 
Oleh: A Taddampali, Wakil Ketua KPID Sulawesi Selatan

Pada tanggal 19 - 22 Februari 2008, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyelenggarakan Rapat Pimpinan (rapim) KPI Bidang Perizinan di Hotel Yasmin, Cianjur, Jawa Barat, yang diikuti oleh seluruh Koordinator Bidang Perizinan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) se Indonesia.
 
Salah satu agenda rapim dan mendapat perhatian yang cukup serius adalah persoalan televisi kabel.
Perkembangan penyiaran di Indonesia memang cukup pesat. Hanya saja, perkembangan itu tidak dibarengi dengan perluasan jangkauan siaran melalui pendirian menara pemancar di berbagai daerah. Masih ada daerah yang belum terjangkau oleh siaran televisi. Ceruk pasar inilah yang dimasuki oleh para pengusaha televisi kabel yang saat ini marak bermunculan di berbagai daerah di Indonesia.
Televisi kabel dibangun untuk mengatasi kesulitan penerimaan siaran televisi yang dialami oleh daerah-daerah dengan penerimaan sinyal yang buruk dan bahkan tidak ada sinyal sama sekali atau obstacle. Caranya cukup sederhana. Operator televisi kabel menangkap siaran melalui antena parabola lalu men-sharing atau menyambungkan kepada pelanggannya melalui kabel coaxial tanpa bisa melakukan sensor siaran atau konten.
Serat Optik
Keberadaan televisi kabel semacam ini memang tidak lepas dari sejarah penyiaran kita. Prihadi Murdiyat menyebutkan bahwa kabel telah menjadi penghubung yang efektif antara operator siaran televisi dan pelanggannya. Menurut literatur, sistem televisi kabel pertama dibuat pada tahun 1948 dengan menggunakan kabel jenis twin head. Kabel ini berbentuk pita seperti yang dipasang pada televisi hitam putih.
Sistem berikutnya dibuat pada tahun 1950 dan telah menggunakan kabel coaxial. Kabel ini tersusun dari konduktor dalam yang diselimuti isolator dan konduktor luar seperti yang dipasang antara antena dan pesawat televisi saat ini. Pada perkembangan selanjutnya, media penghubung itu juga memanfaatkan jaringan microwave, satelit, dan kabel serat optik.
Pada tahun 1948, Ed Parson yang tinggal di Astoria, Oregon, membuat sistem community antenna television (CATV) dengan media kabel twin head dan dipasang dari satu atap rumah ke atap rumah lain. Lalu pada tahun 1950 Bob Tarlton membangun sistemnya di Landford, Pennsylvania, dengan menggunakan kabel coaxial yang dipasang pada tiang. Model inilah yang kemudian banyak digunakan oleh penyelenggara televisi kabel, termasuk yang marak di berbagai daerah di Indonesia.
Pada perkembangan selanjutnya, bisnis televisi kabel telah menjadi lahan yang menggiurkan. Keuntungan yang diperoleh dari usaha ini lumayan besar. Maka bermunculanlah para pengusaha televisi kabel di daerah. Ada yang mempunyai pelanggan hingga ratusan rumah, tetapi ada juga yang mempunyai pelanggan puluhan rumah saja.
Tidak Senafas
Namun saat ini masih sering terjadi persinggungan diantara para pengusaha televisi kabel di daerah. Pemicunya juga beragam. Tetapi yang paling sering adalah akibat persaingan usaha dan perebutan pelanggan. Di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan bahkan ada dua pengusaha televisi kabel yang bersitegang dan berujung pada bentrok fisik. Untuk menarik pelanggan, bahkan ada kasus pengusaha televisi kabel yang menyiarkan video porno. Kini kasusnya sudah ditangani oleh kepolisian.

Memang semestinya di Indonesia ada regulasi tentang lembaga penyiaran berlangganan yang yang di dalamnya termasuk yang akan menggunakan satelit, teresterial, dan kabel. Penggunaan satelit biasanya untuk lingkup nasional, sedangkan penggunaan teresterial adalah untuk nasional dan lokal, sementara penggunaan kabel hanya di tingkat lokal.
Ketentuan Umum Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (UU Penyiaran) menyebutkan; Penyiaran adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran.
Berdasarkan ketentuan itu, maka televisi kabel masuk dalam domain penyiaran. UU Penyiaran sendiri hanya mengakomodir empat lembaga penyiaran, yakni Lembaga Penyiaran Publik, Lembaga Penyiaran Swasta, Lembaga Penyiaran Komunitas, dan Lembaga Penyiaran Berlangganan (Pasal 13 Ayat 2). Sesuai dengan model pemancarluasannya yang hanya diterima oleh para pelanggannya, maka televisi kabel tergolong Lembaga Penyiaran Berlangganan.
Untuk teknis pelaksanaannya, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 52 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Berlangganan. Namun PP tersebut rupanya tidak senafas dengan praktik penyelenggaraan televisi kabel. Frame pembuatan PP tersebut adalah praktik televisi berlangganan seperti Indovision, Cable Vision, dan semacamnya, sehingga syarat administrasi dan perizinannya sangat berat bagi pengelola televisi kabel di daerah. Akibatnya, terjadi pelanggaran copyright atau hak cipta di bidang penyiaran oleh penyelenggara televisi kabel.
Rapim KPI di Cianjur itu kemudian melahirkan berbagai rekomendasi terkait televisi kabel. KPI berpendapat bahwa maraknya televisi kabel di berbagai daerah di Indonesia, terutama di wilayah blank spot, adalah merupakan potensi lokal yang sangat berkaitan erat bagi kepentingan distribusi informasi dan ekonomi masyarakat daerah yang perlu mendapatkan perhatian.
Berdasarkan asas manfaat yang dianut dalam UU Penyiaran, televisi kabel telah membantu upaya redistribusi siaran kepada masyarakat yang berada di wilayah blank spot atau dengan kualitas siaran televisi yang kurang baik. Untuk itu, televisi kabel harus diarahkan agar dapat berjalan sesuai dengan koridor hukum dan peraturan yang berlaku.
Rapim KPI juga mengamanatkan agar segera disusun konsep peraturan yang dapat mengakomodir keberadaan televisi kabel serta penyusunan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS) yang mengatur tentang Lembaga Penyiaran Berlangganan.
Yang menarik, Rapim juga mengamanatkan agar KPI Pusat berkoordinasi dengan Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) untuk menyusun sebuah Peraturan Menteri (Permen) atau Surat Keputusan Bersama terkait dengan Lembaga Penyiaran Berlangganan agar dapat menyerap aspirasi keberadaan televisi kabel.
Rekomendasi-rekomendasi dari Rapim KPI di Cianjur itu sedikit banyak telah melegakan berbagai pihak, terutama yang terkait dengan televisi kabel. Ada semangat baru untuk menjalankan tugas dan kewajiban KPI sesuai amanat UU Penyiaran, salah satunya adalah menjamin masyarakat untuk memperoleh informasi yang layak dan benar sesuai dengan hak asasi manusia.
Bagi pengusaha televisi kabel sendiri diharapkan membentuk asosiasi dan menetapkan kode etik bersama agar ada aturan yang bisa ditaati bersama. Asosiasi ini juga yang nantinya akan melakukan kerja sama dengan penyelenggara Lembaga Penyiaran Berlangganan yang sesungguhnya dan selama ini kontennya telah dimanfaatkan oleh pengusaha televisi kabel untuk disiarkan kepada para pelanggannya.
Tentunya kerja sama itu melalui perhitungan bisnis yang disepakati bersama. Misalnya asosiasi televisi kabel inilah yang akan mengurus soal biaya hak cipta penyiaran dari masing-masing anggotanya. Dengan demikian, tidak ada lagi pelanggaran hak cipta seperti yang selama ini terjadi.

Spirit Cianjur itu telah memberikan harapan baru kepada semua pihak. Kita berharap status hukum televisi kabel di daerah akan semakin jelas. Dengan demikian masyarakat sebagai pengguna juga akan semakin nyaman menerima siarannya dan pada akhirnya akan mendorong terbentuknya masyarakat informasi di daerah-daerah. Yang tak kalah pentingnya, spirit Cianjur telah menjadi tanda semakin membaiknya hubungan antara KPI dan Pemerintah, dalam hal ini Depkominfo.


--
Tribun Timur,
Surat Kabar Terbesar di Makassar
http://www.tribun-timur.com

FORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR
tribun.freeforums.org

Usefull Links:

http://jurnalisme-makassar.blogspot.com
http://jurnalisme-tv.blogspot.com
http://jurnalisme-radio.blogspot.com
http://jurnalisme-blog.blogspot.com
http://makassar-updating.blogspot.com
http://makassar-bugis.blogspot.com

Era Televisi Jaringan Merambah Makassar


Sumber: Tribun Timur, Makassar
Rabu, 28-05-2008 
Era Televisi Jaringan Merambah Makassar
Opini Tribun
 
Oleh: Ano S, Staf Biro Trans Tv Makassar

Pentingnya kehadiran televisi nasional menyiar di Makassar ini setidaknya akan memberikan nuansa dan warna tersendiri bagi dinamika kota Makassar. Karena bukan hanya berita spot yang akan menjadi santapan tivi-tivi berjaringan tersebut tapi produser-produser akan membentuk program yang mengangkat cerita dan khas Sulawesi-Selatan termasuk Makassar.Era Televisi Jaringan Merambah Makassar.
 
Tahun 2008 ini Makassar benar-benar akan menjadi sebuah tonggak awal menuju kota yang lebih modern. Mau tak mau kota yang dihuni sekitar 4 juta rakyat ini harus siap menghadapi segala perubahan demi perubahan. Sekarang, apakah kita sudah siap menuju ke sana? Saya akan mengajak Anda melihat dari sudut pandang kehadiran tivi nasional yang akan bersinergi dengan tivi lokal atau tivi nasional yang membentuk biro lokal di kota pintu gerbang Indonesia Timur ini. Pasalnya, modernitas sebuah kota dan peradaban sebuah manusia tak lepas dari peranan televisi.
Kalau mau lihat dunia, mau menguasai dunia-tak perlu mengeluarkan recehan yang banyak. Tak perlu mengeluarkan uang sampai sejuta kita sudah bisa menyaksikan berbagai belahan dunia. Cukup dengan cara membeli televisi berdimensi 14 sampai 21 inci maka Anda sudah menguasai dunia bahkan Anda akan diajak oleh televisi dengan berbagai macam programnya untuk melihat keajaiban dunia.
Tiga tahun terakhir ini kita benar-benar telah dibius oleh kehadiran televisi. Bukan hanya kreativitas anak-anak Indonesia melalui program televisi nasional yang kita bisa nonton melainkan juga program tivi asing melalui jendela tivi kabel atau tivi digital. Kehadiran Indovision serta Astro Tivi telah membawa kita melanglang buana melalui layar televisi. Sementara 13 tivi yang berkantor pusat di Jakarta dan telah menyiar secara serempak di Indonesia juga tak kalah bersaingnya menyajikan program yang membius kita untuk menyaksikan keunikan suku terkecil di Indonesia, hingga melanglang buana ke benua Afrika, Arab, Eropa hingga Amerika Serikat. Di Trans TV misalnya, melalui program Jelajahnya-kita bisa disuguhi aktivitas suku Kajang di Bulukumba, suku tradisionil di Seko Luwu Utara hingga membawa kita melanglang ke Puncak Himalaya. Walau bukan kita yang ke sana-tapi secara hirarki bentuk tubuh, bahasa dan budaya-seolah kita hadir di sana-tepat di Puncak Himalaya. Begitu pula program RCTI, American Idol. Sebelumnya tak pernah kita mengetahui lahirnya artis-artis Amerika. Tapi saat RCTI menghadirkan program tersebut maka dengan mudah kita bias melihat bagaimana kekocakan orang-orang Amerika sebelum menjadi seorang artis. Tak ubahnya dengan keseharian kita.
Tahun 2008 ini, jendela udara Kota Makassar akan makin ramai dengan kehadiran televisi berjaringan atau televise nasional yang selama ini berpusat di Jakarta akan membentuk biro yang nantinya akan bekerja sama dengan tivi- tivi lokal. Seharusnya, tivi nasional itu diberi batas waktu membentuk jaringan di daerah medio 28 Desember 2007 lalu namun pemerintah menundanya hingga 28 Desember 2009. Kalau saya menyimak tampaknya tak sampai tahun 2009 nanti tivi nasional itu akan membentuk sinergi di kota Makassar. Artinya-layar udara Makassar akan ramai dengan jendela televisi nasional berbasis lokal. Nyaris tidak ada celah lagi-kejadian demi kejadian di sudut-sudut Kota Makassar yang akan tersembunyi atau tidak diketahui oleh masyarakat lainnya. Akan ada ratusan kamera televisi yang akan menyorot aktivitas warga Kota Makassar. Siapkah Kita?
Kenapa tak sampai tahun 2009 sesuai aturan pemerintah? Karena kurun waktu dua tahun terakhir ini Kota Makassar mengalami peningkatan yang cukup pesat. Bukan saja dari segi peningkatan prosentase ekonomi tapi yang sangat signifikan terlihat adalah Makassar tanpa disadari perlahan-lahan membawa kita ke kota yang bergaya metropolitan. Pertengahan tahun ini atau paling lambat pertengahan tahun 2009, mega proyek yang ditandai kehadiran gedung pencakar langit, Air Port Hasanuddin Makassar, Studio Trans atau Disnayland ala Makassar akan hadir dengan sempurna di kota ini. Artinya, Makassar akan menjadi sebuah ibu kota negara kedua di Indonesia setelah DKI Jakarta. Sementara kemajuan dalam bidang politik, sosial dan gerakan semakin menjadi barometer bagi pemerintah pusat untuk memgambil sebuah kebijakan nasional.
Mau tak mau pemilik televisi akan mengikuti ritme perkembangan Kota Makassar tersebut. Mereka tidak lagi memandang Makassar sebagai kota penangkal rhating tapi sebuah kota yang bisa mengubah wajah Indonesia. Pemiik televisi kali ini tak hanya akan menerima berita dari Makassar kemudian menyiarkan. Tapi pemilik televisi akan melibatkan secara langsung orang-orang Makassar untuk menyampaikan sendiri berita mengenai Makassar atau Indonesia timur. Kebijakan redaksi tentang liputan Makassar tidak lagi diatur oleh produser-produser di Jakarta seperti yang terjadi selama ini. Policy berita-sepenuhnya menjadi tanggungjawab Makassar. Sehingga arah dan akan dikemanakan Makassar benar-benar tergantung kebijakan di Makassar pada media yang bersangkutan. Salah satu contoh yang sangat miris selama ini adalah ketika terjadi bencana di Indonesia timur. Slot waktu yang disiapkan oleh pusat sangat sedikit ketimbang slot yang disiapkan ketika terjadi bencana di Pulau Jawa dan Sumatra. Ada sebuah ketimpangan informasi yang terpampang di depan mata. Dan saya sebagai pekerja di televisi seringkali memprotes kebijakan tersebut. Tapi kalau berita tentang kebrutalan maka sangat cepat berita tersebut ditayangkan oleh elektronik nasional. Bahkan menjadi sebuah kuping program atau bunner program berita. Berbeda jika liputan tentang kerusakan jalan, kesedihan, berita tentang butuh bantuan maka yang menjadi prioritas adalah liputan di Pulau Jawa dan Sumatra. Alasan semata-mata adalah persoalan rhating dan share yang dikeluarkan oleh AC Nielsen.
Memang persentasi rathing yang dikeluarkan oleh AC Nielsen menempatkan Makassar naik menjadi 2 persen yang dulu hanya nol koma sekian persen. AC Nielsen merupakan lembaga riset media yang mengukur standard khalayak penonton media di dunia.
Pelaksanaan metodologi mengacu Panduan Global Pengukuran Khalayak Televisi (Global Guidelines for TV Audience Meausurement), yaitu prosedur standar pengukuran rating Nielsen di dunia. Pengukuran dilakukan di sepuluh kota besar, yaitu Jakarta dan sekitarnya ( Bogor, Tangerang, Bekasi), Bandung , Semarang , Yogyakarta, Surabaya (dan Gerbangkertasila), Denpasar, Makasar, Medan , Palembang , dan Banjarmasin . Penyebaran sampel tidak sama di setiap kota, yaitu Jakarta 55 persen, Surabaya 20 persen, Bandung 5 persen, Yogyakarta 5 persen, Medan 4 persen, Semarang 3 persen, Palembang 3 persen, Makassar 2 persen, Denpasar 2 persen, dan Banjarmasin 1 persen. Angka ini proporsional berdasarkan populasi kepemilikan televsisi di tiap-tiap kota itu.
Dari sepuluh kota rhating tersebut Makassar memang nilai rhatingnya atau sharenya hanya dua point. Tapi dari letak geoografis, perkembangan politik dan ekonomi maka Makassar akan menjadi sejajar dengan DKI Jakarta, Bandung, dan Surabaya .
Begitulah salah satu barometer pemilik televise sehingga dalam waktu dekat ini membentuk biro atau tivi berjaringan di Makassar. Tiga tahun lalu, Metro Tivi telah membuka biro news di Makassar di susul Trans Tv awal tahun 2007. Bulan Februari lalu resmi pula terbentuk biro Tivione, eks lativi. Pertengahan tahun 2008 ini, RCTI melalui group MNC juga akan resmi sebagai biro RCTI atau MNC. Biro ini akan membawahi tiga televisi TPI, Global dan satu lagi SNT. Kemudian bakal menyusul SCTV dan Indosiar. Dalam aturan KPI, televisi berjaringan ini nantinya akan menyiapkan 40 persen siaran lokal. Walaupun agak sulit dipenuhi namun setidaknya kebijakan pemilik televisi membentuk biro di Makassar sudah menjadi sebuah kemajuan yang cukup pesat di bidang pertelevisian.
Jadi, bersiap-siaplah saluran khusus Makassar akan menjadi berita di setiap televisi nasional yang telah berjaringhagan tersebut. Anda akan menambah sejumlah saluran televise di tombol remote control televise karena kehadiran tivi berjaringan itu praktis menambah saluran local di kota ini. Makassar akan menjadi Jakarta kedua, di mana kita bisa menyaksikan berita apapun akan tayang di televisi tersebut lalu disaksikan oleh orang-orang di Indonesia timur meliputi sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Kalau selama ini di Jakarta dan pulau Jawa lainnya-berita tentang jalan yang rusak saja tayang di tivi nasional lalu disaksikan secara nasional maka akan seperti itu pulalah kebijakan pemberitaan nantinya di tivi berjaringan tersebut. Jangan heran jika suatu saat di Kota Makasar ini akan bersileweran merk-merk televisi di setiap mobil operasional mereka, camaremen akan bertebaran di sudut-sudut kota karena seperti itulah kebijakan biro sebuah televisi.
Tak ada lagi yang sulit disembunyikan menanti lahirnya televisi berjaringan di Kota Makassar. Pertengkaran antarkeluarga, RT hingga kebijakan publik akan tersiar langsung melalui televisi. Dan bukan hanya satu televisi yang akan menyiarkan tapi semua televisi yang membentuk biro di kota ini akan menyiarkan peristiwa dan kebijakan tersebut. Peristiwa di Makassar yang dulu porsinya hanya satu segment atau nol koma sekian persen dalam program televisi nasional maka kehadiran biro akan mengubah segalanya. Bahkan, dua hingag tiga segment pun akan menjadi milik Makassar.
Pentingnya kehadiran televisi nasional menyiar di Makassar ini setidaknya akan memberikan nuansa dan warna tersendiri bagi dinamika kota Makassar. Karena bukan hanya berita spot yang akan menjadi santapan tivi-tivi berjaringan tersebut tapi produser-produser akan membentuk program yang mengangkat cerita dan khas Sulawesi-Selatan termasuk Makassar. Jadi, bersiaplah menerima berbagai tayangan tentang Sulawesi Selatan melalui puluhan layer kaca. Bahkan kalau Anda punya air mata-maka televisi punya layar kaca yang siap menampung air mata Anda.


--
Tribun Timur,
Surat Kabar Terbesar di Makassar
http://www.tribun-timur.com

FORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR
tribun.freeforums.org

Usefull Links:

http://jurnalisme-makassar.blogspot.com
http://jurnalisme-tv.blogspot.com
http://jurnalisme-radio.blogspot.com
http://jurnalisme-blog.blogspot.com
http://makassar-updating.blogspot.com
http://makassar-bugis.blogspot.com

Thursday, August 7, 2008

Cakrawala TV dan Sun TV Berebut Channel di Makassar

Sumber: Tribun Timur, Makassar

Rabu, 06-08-2008 
Cakrawala TV Bersaing dengan Sun TV
Makassar, Tribun - Sebuah televisi lokal bernama Cakrawala TV bakal beroperasi di Makassar. Proposal pengajuan operasi televisi itu sedang diajukan PT Citra Abadi Televisindo ke Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulawesi Selatan. Proposal ini sudah berada di tangan KPID sejak awal Januari lalu.
Bertempat di Hotel Sahid, Jl Ratulangi, Makassar, KPID Sulsel menggelar evaluasi dengar pendapat (EDP), Selasa (5/8), mengenai proposal Cakrawala TV.
 
PT Citra Abadi Televisindo merupakan perusahaan asal Jakarta namun memilih Makassar sebagai wilayah strategis untuk mendirikan stasiun televisi berbasis lokal. Televisi ini bersaing untuk mendapatkan kanal (channel) dari empat yang disediakan KPID.
Ketua KPID Sulsel, Aswar Hasan mengatakan, tiga kanal televisi sudah dipakai TVRI, Makassar TV, dan Fajar TV. "Jadi Cakrawala TV akan bersaing dengan Sun TV untuk memperebutkan satu kanal yang belum terisi itu," ujarnya.
Aswar menambahkan, kehadiran Cakrawala TV akan menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat.
"Kehadiran televisi lokal baru di Makassar bukan masalah. Masyarakat akan diuntungkan karena bisa memilih program yang menarik baginya. Selain itu, akan membuka peluang bagi jurnalis- jurnalis televisi Makassar," ujarnya. Namun, keputusan kelayakan penyiarannya baru akan dilihat September mendatang.
Acara dengar pendapat dihadiri sekitar 30 orang dari akademisi, jurnalis, dan tokoh masyarakat. Dalam pendapatnya akdemisi dari Unhas mengatakan ada semacam kekhawatiran tentang Cakrawala TV ke depan.
Di akhir acara, Programing Cakrawala TV, Alex Praditnya, mengatakan komitmennya menyajikan konten budaya lokal dan memberikan kesejahteraan bagi karyawannya di atas upah minimum regional (UMR).


--
Tribun Timur,
Surat Kabar Terbesar di Makassar
http://www.tribun-timur.com

FORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR
tribun.freeforums.org

Usefull Links:

http://jurnalisme-makassar.blogspot.com
http://jurnalisme-tv.blogspot.com
http://jurnalisme-radio.blogspot.com
http://jurnalisme-blog.blogspot.com
http://makassar-updating.blogspot.com
http://makassar-bugis.blogspot.com

Monday, July 28, 2008

Tribun TV: Bendi, Kendaraan Tak Peduli BBM Naik

Tribun TV
http://www.tribun-timur.com/viewv.php?id=89733&jenis=TribunTV




Minggu, 27-07-2008 
Bendi, Kendaraan Tak Peduli BBM Naik


 
Pemilik dokar di Desa Allaere Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros, 40 Km dari Makassar, tidak pusing dengan naiknya harga BBM. Di saat pemilik kendaraan lain menaikkan harga hingga 50 persen, mereka malah tetap memasang tarif lama

Tarif sekali jalan antar desa hanya Rp 1.000-2.000 per orang. Tarif ini berlaku sejak dua tahun lalu. Maklum saja kendaraan ini tidak menggunakan bensin, mereka menggunakan tenaga kuda.

Angkutan ini masih bisa ditemui di pedalaman Maros. Namun jangan harap menemuinya di dalam kota. Pasalnya mereka kalah bersaing dengan ojek dan angkutan umum lainnya

Minggu pagi mereka terlihat asyik mengantar penumpang yang baru saja pulang berbelanja di pasar yang hanya buka pada hari Minggu dan Rabu.

Tribun Timur TV

Reporter: Mursalim Djafar


--
Tribun Timur,
Surat Kabar Terbesar di Makassar
http://www.tribun-timur.com

FORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR
tribun.freeforums.org

Usefull Links:

http://jurnalisme-makassar.blogspot.com
http://jurnalisme-tv.blogspot.com
http://jurnalisme-radio.blogspot.com
http://jurnalisme-blog.blogspot.com
http://makassar-updating.blogspot.com
http://makassar-bugis.blogspot.com

Friday, July 25, 2008

Diet Nonton Televisi Perlu Digalakkan Keluarga

Sumber: Tribun Timur, Makassar
Link: http://www.tribun-timur.com/view.php?id=88507&jenis=Makassar
Sabtu, 19-07-2008 | 00:29:56 
Diet Nonton Televisi Perlu Digalakkan Keluarga
Laporan: Kompas.com
 
Jakarta, Tribun - Berjam-jam anak-anak menonton televisi setiap hari tanpa didampingi orang tua, akan memberikan pengaruh buruk terhadap anak. Karena itu diet nonton televisi harus digalakkan. Seandainya kegiatan menonton diganti dengan kegiatan membaca, sangat mencerahkan dan mencerdaskan.
 
"Jika ada gerakan hari tanpa televisi, tanggal 23 Juli, maka Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sangat mendukung. Ini akan mengurangi dampak buruk televisi terhadap anak," kata Koordinator Bidang Isi Siaran KPI, Yazirwan Uyun, Jumat (18/7) di Jakarta.

Menurut Yazirwan, dari perjalanannya ke berbagai daerah, ternyata ada sejumlah daerah yang sudah melakukan "diet" nonton televisi, dan itu diatur melalui peraturan daerah. Ada juga melalui larangan di sekolah-sekolah.

"Kualitas tayangan televisi dewasa ini belum sesuai harapan KPI. Apalagi, karena orangtua sibuk, anak-anak jarang didampingi. Anak-anak yang lama di depan televisi tak sempat lagi bersosialisasi dan berdiskusi dengan keluarga, " ujarnya.

Karena itu, jika ada gerakan hari tanpa televisi, LSM perlu lebih mendorong masyarakat, sebagai bentuk untuk membebaskan anak-anak dari candu menonton televisi, yang seharusnya tayarangan itu bukan diuntukkan kepadanya. Juga gerakan ini bisa menghemat pemakaian listrik.(*)

--
Tribun Timur,
Surat Kabar Terbesar di Makassar
http://www.tribun-timur.com

FORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR
tribun.freeforums.org

Usefull Links:

http://jurnalisme-makassar.blogspot.com
http://jurnalisme-tv.blogspot.com
http://jurnalisme-radio.blogspot.com
http://jurnalisme-blog.blogspot.com
http://makassar-updating.blogspot.com
http://makassar-bugis.blogspot.com

Monday, July 14, 2008

Kick Andy di Unhas: Cerita Tentang Cairan Infus Kedaluarsa


http://www.tribun-timur.com/viewrss.php?id=87757
Cerita Tentang Cairan Infus Kedaluarsa
Kick Andy Off Air (3)
 
NAMA lengkapnya Hajjah Andi Rabiah. Tapi sejak pengabdiannya menolong pasien dari satu pulau ke pulau lain dengan sarana transportasinya berupa perahu tradisional diabadikan dalam film berjudul Suster Apung yang kemudian memenangkan lomba film dokumenter Eagle Award Metro TV 2006 lalu, ia pun kini lebih dikenal sebagai Suster Apung.
Sesungguhnya wanita kurus berjilbab itu hanyalah suster biasa. Tapi karena medan kerjanya yang tak biasa, ibu empat anak yang telah berusia setengah abad itu pun terbentuk oleh alam menjadi seorang suster yang luarbiasa.
 
Sekitar 30 tahun mengabdi sebagai perawat, ia kadang dituntut layaknya bidan yang harus bisa membantu setiap penduduk di pulau melahirkan. Juga kadang dituntut seperti seorang dokter yang melayani pasien sakit.
"Sebagai perawat, saya sebenarnya bisa kena malapraktik," ungkapnya jujur pada acara Kick Andy Off Air "Indahnya Berbagi" yang digelar Metro TV di Baruga AP Pettarani, Universitas Hasanuddin, Tamalanrea, Jumat (11/7) lalu.
Suatu hari, akibat keterbatasan obat-obatan Rabiah terpaksa memberikan cairan infus yang kedaluarsa sudah lima tahun kepada seorang penduduk yang sedang sekarat.
"Tapi, alhamdulilah orang itu masih hidup sampai sekarang," ujarnya yang disambut tawa dan aplaus dari penonton yang menyaksikan acara itu. Termasuk Rektor Universitas Hasanuddin Prof Dr Idrus Paturusi SpBO yang juga guru besar kedokteran ini.
Rabiah dengan jujur mengaku hal itu ia lakukan karena di daerah ia bekerja, tak ada bidan. Apalagi dokter. Umumnya bidan dan dokter lebih memilih bekerja di kota atau daerah yang dekat kota. Sangat jarang ada yang rela mengabdi di pulau terpencil. Apalagi jika di pulau itu tak ada listrik.
Rabiah selama ini bekerja di Puskesmas Liukang Tangaya di Pulau Sapuka, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Wilayah ini hingga kini belum dilayani penerangan dari PLN. Kalau naik perahu motor dari Pelabuhan Paotere, Makassar, menuju tempat kerja Suster Apung, lama perjalanan laut paling cepat 24 jam.
Itu pun jika dalam perjalanan tak ada gangguan atau ombak normal. Wilayah kerja Rabiah memang meliputi satu kelurahan ditambah empat desa. Tapi satu kelurahan dan empat desa yang dilayani itu tersebar di 25 pulau di perbatasan antara Laut Flores, Laut Jawa, dan Selat Makassar.
Dalam melayani pasien, Rabiah harus mengarungi lautan luas dan ombak tinggi menuju pulau yang satu ke pulau yang lain. Jarak antarpulau ditempuh minimal tiga jam dan terjauh kadang. Bahkan tak jarang, ia harus berada di laut sehari semalam untuk bisa tiba di pulau di mana pasien membutuhkan pelayanannya.
Hal yang mengesankan, suster ini berani bertaruh mati di tengah deru ombak dan angin kencang yang menerpanya, demi tergenapi harapan bahwa pasien di ujung pulau sana dapat segera sehat dengan obat-obatan yang d ikantunginya.
Padahal selama hampir 30 tahun mengabdi sebagai suster, baru setahun lalu ia mendapat SK sebagai pegawai negeri sipil dari Pemerintah Kabupaten Pangkep. Suatu dedikasi yang masih sangat tulus dan mahal.

--
Tribun Timur,
Surat Kabar Terbesar di Makassar
http://www.tribun-timur.com

FORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR
tribun.freeforums.org

Usefull Links:

http://jurnalisme-makassar.blogspot.com
http://jurnalisme-tv.blogspot.com
http://jurnalisme-radio.blogspot.com
http://jurnalisme-blog.blogspot.com
http://makassar-updating.blogspot.com
http://makassar-bugis.blogspot.com

Saturday, July 12, 2008

Kekuatan Cinta Betania Eden

SumbeR: Tribun Timur, Makassar

Kick Andy Off Air di Universitas Hasanuddin, Makassar
http://www.tribun-timur.com/view.php?id=87553&jenis=Kota

Minggu, 13-07-2008 
Kekuatan Cinta Betania Eden
LELAKI cacat dengan kepala yang tak bisa ditumbuhi rambut, telinga tak ada, dan mata membelalak bak mau keluar, dan tubuh yang gosong, adakah wanita yang mau?
Kebanyakan wanita mungkin akan berpikir berjuta kali. Manusiawi. Setiap insan wanita mendambakan menikah dengan lelaki tampang.
Tapi tidak bagi Betania Eden. Wanita ini rela menikah dengan Dwi Krismawan yang memiliki rupa buruk akibat terbakar dalam kecelakaan pesawat yang digunakannya saat latihan terbang dan menabrak punggung gunung.
 
Hampir satu setengah jam, Dwi yang merupakan calon pilot dan instrukturnya itu harus berjuang melepaskan diri dari api yang membakar hampir sekujur tubuh mereka. Delapan jam setelah pesawatnya jatuh, tim penyelamat berhasil mengevakuasi Dwi dan seorang instrukturnya.
Peristiwa jatuhnya pesawat latih jenis FG-10 milik Sekolah Tinggi Penerbangan Curug itu terjadi pada 28 Januari 1997. Keduanya selamat. Tetapi, semua itu membawa dampak besar dalam kehidupan mereka selanjutnya. Lebih 50 persen tubuhnya gosong. Ia sempat tak bisa berbicara. Tangannya tak bisa digerakkan.
"Wajah saya harus dioperasi 25 kali supaya berbentuk lagi," ungkap Dwi saat tampil pada acara Kick Andy Off Air "Indahnya Berbagi" yang digelar di Baruga AP Pettarani, Kampus Universitas Hasanuddin, Tamalanrea, Jumat (11/7) sore.
Namun kasih Tuhan lagi-lagi menghampirinya. Di balik musibah itu ada kekuatan cinta luar biasa yang membuat Kris, calon pilot yang dulu tampan dengan masa depan cerah, harus berjuang bangkit dari kehancuran hidupnya karena cacat wajah permanen yang sungguh mengerikan.
Beberapa bulan sebelum peristiwa nahas itu, pemuda asal Jawa ini jatuh cinta pada seorang gadis Ambon, Bethania Eden, yang memikat hatinya. Sayang, orangtua Kris tidak merestui hubungan itu. "Hanya karena menurut primbon Jawa, saya dan Mas Kris tak cocok, saya dianggap membawa sial bagi putra mereka," ungkap Bethania, yang akrab dipanggil Ibeth.
Bahkan pada saat Ibeth hendak menjenguk sang kekasih yang terkapar di rumah sakit, orangtua Kris tetap melarang. "Dengan perasaan guncang dan sedih, saya berdoa: Tuhan, jika Engkau memberi kesempatan dia hidup, aku berjanji akan menemani dia seumur hidupku,'' ujar Ibeth yang kini dikarunia seorang anak.
Keajaiban terjadi. Kris yang oleh dokter sudah dinyatakan hanya mampu bertahan tiga hari itu berangsur pulih. Walaupun seluruh wajahnya rusak. Rambutnya tidak lagi bisa tumbuh, kedua daun telinga hancur, dan bentuk bibir dan hidungnya berantakan. Begitu juga jari-jari kedua tangannya pun lengket satu sama lain. Tulangnya bengkok.
Hampir dua tahun ia menderita kesakitan luar biasa selama dirawat di rumah sakit . Keluar dari rumah sakit, ia pun masih disingkirkan dari pergaulan. Hal itu sempat membuat Dwi beberapa kali ingin bunuh diri.
Untungnya, Dwi yang mengingat janjinya kepada Tuhan, akhirnya memilih setia merawat dan menemani Dwi di rumah sakit. Ibeth akhirnya juga memutuskan melamar Dwi untuk ia jadikan suami.
"Namun akibat pilihan saya menikahi Mas Dwi, keluarga dan banyak rekan-rekan saya yang mengatakan saya sudah gila. Tak waras. Ada yang bilang, kok mau-maunya sama pria yang buruk rupa dan tak bisa diharapkan mencari nafkah. Tapi saya sudah berjanji pada Tuhan, maka saya harus menepatinya," tutur wanita berkulit putih itu saat menemani suaminya di acara Kick Andy tersebut.
Sebuah kisah tentang kekuatan cinta, the power of love, yang sungguh mengharukan. Kisah Dwi dan Bethania mengungkap betapa dukungan kasih orang terdekat akan sangat memiliki pengaruh positif yang besar untuk menumbuhkan harapan dan perjuang hidup.
Sang kekasih yang selalu mendampinginya, tak putus-putusnya membisikan kata-kata yang membangkitkan semangat. Kata-kata inilah yang membuat Dwi mampu bertahan, dan melewati masa kritis.
Dwi pun kini makin percaya diri. Bahkan tak sungkan menjadi wajahnya yang buruk itu sebagai lelucon setiap kali hadir muka umum.(jum)

--
Tribun Timur,
Surat Kabar Terbesar di Makassar
http://www.tribun-timur.com

FORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR
tribun.freeforums.org

Usefull Links:

http://jurnalisme-makassar.blogspot.com
http://jurnalisme-tv.blogspot.com
http://jurnalisme-radio.blogspot.com
http://jurnalisme-blog.blogspot.com
http://makassar-updating.blogspot.com
http://makassar-bugis.blogspot.com

Sunday, July 6, 2008

KPI Tegur Trans TV dan Global TV soal Materi Tayangan

Sudah lama dikeluhkan betapa tayangan TV Indonesia tidak aman buat keluarga di rumah. Inilah satu buktinya versi KPI.

Maju terus KPI. Lindungi keluarga Indonesia.


Sumber: detikcom

07/07/2008 12:34 WIB
Extravaganza Trans TV Terancam Distop KPI
Chairina Fatia - detikcom

Jakarta - Acara Extravaganza yang ditayangkan Trans TV kembali mendapat teguran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Acara komedi yang dinilai mengandung unsur pelecehan itu pun terancam dihentikan penayangannya.

"Extravaganza Trans TV, yang sebelumnya pernah mendapat teguran, kali ini teguran terakhir. Apabila Trans TV tidak memperbaiki juga tayangan ini, KPI meminta untuk tayangan ini dihentikan," kata anggota KPI pusat Yazirwan Uyun di Kantor KPI, Jl Gadjah Mada, Jakarta Pusat, Senin (7/7/2008).

Yazirwan menjelaskan, keputusan itu dihasilkan dari pantauan KPI terhadap tayangan televisi periode 1-13 Mei 2008. Selain Extravaganza, ada 3 tayangan televisi yang juga dinilai bermasalah dan mendapatkan teguran pertama.

Selain Extravaganza, 2 program Trans TV lain juga mendapatkan teguran. 2 Program itu adalah Ngelenong Nyok dan Suami-suami Takut Istri. Kartun tentang bajak laut One Piece dari Global TV pun turut ditegur.

Menurut Yazirwan, tayangan-tayangan itu mengandung kekerasan, pelecehan terhadap kelompok masyarakat, tidak melindungi kepentingan anak-anak, dan tidak sesuai dengan norma kesopanan serta kesusilaan.

KPI, lanjut dia, memberi peringatan pertama bagi ketiga tayangan ini. Jika tidak berubah akan kembali mendapat teguran kedua yang merupakan teguran terakhir.

"Tim KPI memantau 3 sampai 4 jam tayangan-tayangan itu. Hasil kerjanya dicek dua kordinator tim analis dan membawa ke dewan juri, kemudian dirapatkan dengan Dewan Komisioner KPI," kata Yazirwan.

Dia menjelaskan, tim panelis diketuai oleh Prof Dr Arif Rahman dengan Wakil Ketua Dedi Nur Hidayat. Anggotanya terdiri dari Seto Mulyadi, Nina Armando, Bobby Guntarto, Razaini Taher dan dibantu 11 analis. ( fiq / nwk )

--
Tribun Timur,
Surat Kabar Terbesar di Makassar
http://www.tribun-timur.com

FORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR
tribun.freeforums.org

Usefull Links:

http://jurnalisme-makassar.blogspot.com
http://jurnalisme-tv.blogspot.com
http://jurnalisme-radio.blogspot.com
http://jurnalisme-blog.blogspot.com
http://makassar-updating.blogspot.com
http://makassar-bugis.blogspot.com

Wednesday, June 25, 2008

Barrack Obama, Calon Presiden AS, Kampanye, dan Komunitas Muslim AS


ARTIKEL The New York Times ini barangkali bisa memberikan sisi lain tentang Barrack Obama, pergulatannya di tengah pemilih yang mayoritas non-Muslim, dan masa lalu yang begitu kental dengan warna Muslim.

Andrea Elliott, sang penulis, melukiskan bagaimana Obama (atau para pengawal dan tim kampanyenya?) menghindarkan Obama dari orang-orang Islam pada masa kampanye. Simak selengkapnya:

Sumber:
http://www.nytimes.com/2008/06/24/us/politics/24muslim.html?_r=1&oref=slogin


Muslim Voters Detect a Snub From Obama


Published: June 24, 2008

As Senator Barack Obama courted voters in Iowa last December, Representative Keith Ellison, the country's first Muslim congressman, stepped forward eagerly to help.
Damon Winter/The New York Times

Barack Obama, on the altar at Ebenezer Baptist Church in Atlanta, has appeared in synagogues this campaign but no mosques.

Mr. Ellison believed that Mr. Obama's message of unity resonated deeply with American Muslims. He volunteered to speak on Mr. Obama's behalf at a mosque in Cedar Rapids, one of the nation's oldest Muslim enclaves. But before the rally could take place, aides to Mr. Obama asked Mr. Ellison to cancel the trip because it might stir controversy. Another aide appeared at Mr. Ellison's Washington office to explain.

"I will never forget the quote," Mr. Ellison said, leaning forward in his chair as he recalled the aide's words. "He said, 'We have a very tightly wrapped message.' "

When Mr. Obama began his presidential campaign, Muslim Americans from California to Virginia responded with enthusiasm, seeing him as a long-awaited champion of civil liberties, religious tolerance and diplomacy in foreign affairs. But more than a year later, many say, he has not returned their embrace.

While the senator has visited churches and synagogues, he has yet to appear at a single mosque. Muslim and Arab-American organizations have tried repeatedly to arrange meetings with Mr. Obama, but officials with those groups say their invitations — unlike those of their Jewish and Christian counterparts — have been ignored. Last week, two Muslim women wearing head scarves were barred by campaign volunteers from appearing behind Mr. Obama at a rally in Detroit.

In interviews, Muslim political and civic leaders said they understood that their support for Mr. Obama could be a problem for him at a time when some Americans are deeply suspicious of Muslims. Yet those leaders nonetheless expressed disappointment and even anger at the distance that Mr. Obama has kept from them.

"This is the 'hope campaign,' this is the 'change campaign,' " said Mr. Ellison, Democrat of Minnesota. Muslims are frustrated, he added, that "they have not been fully engaged in it."

Aides to Mr. Obama denied that he had kept his Muslim supporters at arm's length. They cited statements in which he had spoken inclusively about American Islam and a radio advertisement he recorded for the recent campaign of Representative Andre Carson, Democrat of Indiana, who this spring became the second Muslim elected to Congress.

In May, Mr. Obama also had a brief, private meeting with the leader of a mosque in Dearborn, Mich., home to the country's largest concentration of Arab-Americans. And this month, a senior campaign aide met with Arab-American leaders in Dearborn, most of whom are Muslim. (Mr. Obama did not campaign in Michigan before the primary in January because of a party dispute over the calendar.)

"Our campaign has made every attempt to bring together Americans of all races, religions and backgrounds to take on our common challenges," Ben LaBolt, a campaign spokesman, said in an e-mail message.

Mr. LaBolt added that with religious groups, the campaign had largely taken "an interfaith approach, one that may not have reached every group that wishes to participate but has reached many Muslim Americans."

The strained relationship between Muslims and Mr. Obama reflects one of the central challenges facing the senator: how to maintain a broad electoral appeal without alienating any of the numerous constituencies he needs to win in November.

After the episode in Detroit last week, Mr. Obama telephoned the two Muslim women to apologize. "I take deepest offense to and will continue to fight against discrimination against people of any religious group or background," he said in a statement.

Such gestures have fallen short in the eyes of many Muslim leaders, who say the Detroit incident and others illustrate a disconnect between Mr. Obama's message of unity and his campaign strategy.

"The community feels betrayed," said Safiya Ghori, the government relations director in the Washington office of the Muslim Public Affairs Council.

Even some of Mr. Obama's strongest Muslim supporters say they are uncomfortable with the forceful denials he has made in response to rumors that he is secretly a Muslim. (Ten percent of registered voters believe the rumor, according to a poll by the Pew Research Center.)

(Page 2 of 2)

In an interview with "60 Minutes," Mr. Obama said the rumors were offensive to American Muslims because they played into "fearmongering." But on a new section of his Web site, he classifies the claim that he is Muslim as a "smear."


"A lot of us are waiting for him to say that there's nothing wrong with being a Muslim, by the way," Mr. Ellison said.

Mr. Ellison, a first-term congressman, remains arguably the senator's most important Muslim supporter. He has attended Obama rallies in Minnesota and appears on the campaign's Web site. But Mr. Ellison said he was also forced to cancel plans to campaign for Mr. Obama in North Carolina after an emissary for the senator told him the state was "too conservative." Mr. Ellison said he blamed Mr. Obama's aides — not the candidate himself — for his campaign's standoffishness.

Despite the complications of wooing Muslim voters, Mr. Obama and his Republican rival, Senator John McCain, may find it risky to ignore this constituency. There are sizable Muslim populations in closely fought states like Florida, Michigan, Ohio and Virginia.

In those states and others, American Muslims have experienced a political awakening in the years since Sept. 11, 2001. Before the attacks, Muslim political leadership in the United States was dominated by well-heeled South Asian and Arab immigrants, whose communities account for a majority of the nation's Muslims. (Another 20 percent are estimated to be African-American.) The number of American Muslims remains in dispute as the Census Bureau does not collect data on religious orientation; most estimates range from 2.35 million to 6 million.

A coalition of immigrant Muslim groups endorsed George W. Bush in his 2000 campaign, only to find themselves ignored by Bush administration officials as their communities were rocked by the carrying out of the USA Patriot Act, the detention and deportation of Muslim immigrants and other security measures after Sept. 11.

As a result, Muslim organizations began mobilizing supporters across the country to register to vote and run for local offices, and political action committees started tracking registered Muslim voters. The character of Muslim political organizations also began to change.

"We moved away from political leadership primarily by doctors, lawyers and elite professionals to real savvy grass-roots operatives," said Mahdi Bray, executive director of the Muslim American Society Freedom Foundation, a political group in Washington. "We went back to the base."

In 2006, the Virginia Muslim Political Action Committee arranged for 53 Muslim cabdrivers to skip their shifts at Dulles International Airport in Northern Virginia to transport voters to the polls for the midterm election. Of an estimated 60,000 registered Muslim voters in the state, 86 percent turned out and voted overwhelmingly for Jim Webb, a Democrat running for the Senate who subsequently won the election, according to data collected by the committee.

The committee's president, Mukit Hossain, said Muslims in Virginia were drawn to Mr. Obama because of his support for civil liberties and his more diplomatic approach to the Middle East. Mr. Hossain and others said his multicultural image also appealed to immigrant voters.

"This is the son of an immigrant; this is someone with a funny name," said James Zogby, president of the Arab American Institute, who is a Christian who has campaigned for Mr. Obama at mosques and Arab churches. "There is this excitement that if he can win, they can win, too."

Yet some Muslim and Arab-American political organizers worry that the campaign's reluctance to reach out to voters in those communities will eventually turn them off. "If they think that they are voting for a campaign that is trying to distance itself from them, my big fear is that Muslims will sit it out," Mr. Hossain said.

Throughout the primaries, Muslim groups often failed to persuade Mr. Obama's campaign to at least send a surrogate to speak to voters at their events, said Ms. Ghori, of the Muslim Public Affairs Council.

Before the Virginia primary in February, some of the nation's leading Muslim organizations nearly canceled an event at a mosque in Sterling because they could not arrange for representatives from any of the major presidential campaigns to attend. At the last minute, they succeeded in wooing surrogates from the Clinton and Obama campaigns by telling each that the other was planning to attend, Mr. Bray said. (No one from the McCain campaign showed up.)

Frustrations with Mr. Obama deepened the day after he claimed the nomination when he told the American Israel Public Affairs Committee that Jerusalem should be the undivided capital of Israel. (Mr. Obama later clarified his statement, saying Jerusalem's status would need to be negotiated between Israelis and Palestinians.)

Osama Siblani, the editor and publisher of the weekly Arab American News in Dearborn, said Mr. Obama had "pandered" to the Israeli lobby, while neglecting to meet formally with Arab-American and Muslim leaders. "They're trying to take the votes without the liabilities," said Mr. Siblani, who is also president of the Arab American Political Action Committee.

Some Muslim supporters of Mr. Obama seem to ricochet between dejection and optimism. Minha Husaini, a public health consultant in her 30s who is working for the Obama campaign in Philadelphia, lights up like a swooning teenager when she talks about his promise for change.

"He gives me hope," Ms. Husaini said in an interview last month, shortly before she joined the campaign on a fellowship. But she sighed when the conversation turned to his denials of being Muslim, "as if it's something bad," she said.

For Ms. Ghori and other Muslims, Mr. Obama's hands-off approach is not surprising in a political climate they feel is marred by frequent attacks on their faith.

Among the incidents they cite are a statement by Mr. McCain, in a 2007 interview with Beliefnet.com, that he would prefer a Christian president to a Muslim one; a comment by Senator Hillary Rodham Clinton that Mr. Obama was not Muslim "as far as I know"; and a remark by Representative Steve King, Republican of Iowa, to The Associated Press in March that an Obama victory would be celebrated by terrorists, who would see him as a "savior."

"All you have to say is Barack Hussein Obama," said Arsalan Iftikhar, a human rights lawyer and contributing editor at Islamica Magazine. "You don't even have to say 'Muslim.' "

As a consequence, many Muslims have kept their support for Mr. Obama quiet. Any visible show of allegiance could be used by his opponents to incite fear, further the false rumors about his faith and "bin-Laden him," Mr. Bray said.

"The joke within the national Muslim organizations," Ms. Ghori said, "is that we should endorse the person we don't want to win."

--
Tribun Timur,
Surat Kabar Terbesar di Makassar
http://www.tribun-timur.com

FORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR
tribun.freeforums.org

Usefull Links:

http://jurnalisme-makassar.blogspot.com
http://jurnalisme-tv.blogspot.com
http://jurnalisme-radio.blogspot.com
http://jurnalisme-blog.blogspot.com
http://makassar-updating.blogspot.com
http://makassar-bugis.blogspot.com

Sunday, June 22, 2008

Rekor tribun-timur.com pada berita Pilkada Sulsel di Kompas.com


Saya berselancar di search engine Kompas.com dan menemukan berita ini.
http://www.kompas.com/read/xml/2008/03/20/14290137

www.tribun-timur. com Cetak Rekor
Syahrul Yasin Limpo berbincang dengan wartawan
Kamis, 20 Maret 2008 | 14:29 WIB

Laporan: Mursalim Djafar. tribuntimurcom@ yahoo.com
MAKASSAR, KAMIS -
Berkaitan dengan berita pengumuman keputusan Peninjauan Kembali (PK) Mahkamah Agung atau sengketa Pilkada Sulsel, portal Tribun Timur, www.tribun-timur. com, mencetak rekor untuk seluruh empat kategori pada edisi kemarin, 19 Maret 2008.

Jumlah hits mencapai 141.217 kali, angka paling tinggi bulan ini. Secara sederhana, hits adalah jumlah kunjungan ke website berita real time pertama di luaR Jakarta ini.

Rekor kedua pada jumlah bandwidth atau jumlah data yang didownload yakni 1,13 GB.
Berapa jumlah halaman yang diklik? Ini pun rekor dengan 42.019 halaman. Artinya, pengunjung mengklik 42 ribu halaman lebih pada periode 24 jam pada tanggal 19 Maret kemarin.

Jumlah pengunjung mencapai rekor tertinggi, 4.492 IP adress. Secara sederhana bisa dijelaskan, jumlah kunjungan yang dicatat adalah jumlah koneksi internet dan komputer atau handphone yang mengunjungi www.tribun-timur. com.

Satu komputer atau handphone, kendati dipakai oleh banyak orang seperti ditempat-tempat publik dan perkantoran, hanya dicatat satu kali kunjungan pada hari yang sama. Dengan demikian, dapat dikatakan, satu koneksi internet (komputer atau ponsel) rata-rata
mengklik 31,42 kali.

Satu koneksi internet (komputer atau ponsel) rata-rata membuka halaman sebanyak 9,35 halaman. Rekor itu sekaligus mengukuhkan tribun-timur. com sebagai website surat kabar Makassar yang paling banyak dan paling sering dikunjungi.

Rekor-rekor tersebut menjadi istimewa karena melonjak justru pada hari libur, yang biasanya statistik kunjungan langsung anjlok. Kendati demikian, secara keseluruhan, rekor 19 Maret itu belum apa-apa dibandingkan dengan rekor tanggal 5 dan 6 November 2007, yakni sehari dan pada saat pengumuman quick count Pilkada Sulsel.(*)



Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network


--
Tribun Timur,
Surat Kabar Terbesar di Makassar
http://www.tribun-timur.com

FORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR
tribun.freeforums.org

Usefull Links:

http://jurnalisme-makassar.blogspot.com
http://jurnalisme-tv.blogspot.com
http://jurnalisme-radio.blogspot.com
http://jurnalisme-blog.blogspot.com
http://makassar-updating.blogspot.com
http://makassar-bugis.blogspot.com

LinkWithin