Friday, February 29, 2008

"Tiviwan" tentang TVone

Berikut press release TVone tentang perubahan logo dan positioning

Kamis, 14/02/2008
tvOne Fokus Pada Informations, Sport dan Entertainment

Press Release
Jakarta, 13 Februari 2008

Erick Thohir : " tvOne Fokus Pada Informations, Sport dan Entertainment "

Mulai Kamis, 14 Pebruari 2008 Lativi secara resmi mengganti nama menjadi tvOne ( dibaca: tiviwan ). Kepastian peresmian penggunaan nama tvOne disampaikan Erick Thohir, Direktur Utama tvOne, dalam jumpa pers Rabu, 13 Februari 2008 siang di Jakarta. " Perubahan nama ini adalah upaya strategi manajemen untuk memberikan sesuatu yang berbeda di industri pertelevisian Indonesia " papar Erick.

tvOne akan menyajikan program yang mengandalkan INFORMATIONS, SPORTS dan SELECTED ENTERTAINMENT. Keseriusan tvOne dalam menerapkan strategi tersebut dibuktikan dengan menampilkan format-format yang inovatif dalam hal pemberitaan dan penyajian program. Sebagai pendatang baru dalam dunia News, tvOne telah mempersiapkan bentuk berita baru yang belum pernah ada sebelumnya, seperti Apa Kabar Indonesia yang telah tayang perdana pada Hari Senin 11 Februari 2008. Apa Kabar Indonesia adalah program informasi dalam bentuk diskusi ringan topik-topik terhangat bersama para narasumber dan masyarakat, disiarkan secara langsung pada pagi hari dari studio luar tvOne. Program berita hardnews tvOne dikemas dengan judul : Kabar Pagi, Kabar Pasar, Kabar Siang, Kabar Petang dan Kabar Malam. Kabar Petang menampilkan bentuk pemberitaan yang belum pernah ditampilkan oleh stasiun televisi lainnya, yaitu menghadirkan secara langsung berita-berita dari Biro Pusat –Jakarta dan beberapa Biro Daerah (Medan, Surabaya, Makassar) dengan bobot pemberitaan yang berimbang antar semua Biro. Kabar Malam bekerjasama dengan seluruh media nusantara untuk menghasilkan editorial yang lengkap, kredibel dan dinamis.

tvOne memproduksi pula program-program current affairs yang eksklusif seperti Telusur, Kerah Putih, Menyingkap Tabir, Mata Kamera. Program-program documentary tvOne mengandung unsur petualangan dan edutainment dengan judul program : Nuansa Seribu Pulau, Sahabat Satwa, Panji Sang Penakluk dan Khatulistiwa. Untuk sajian reality show, dihadirkan Adrenalin, Aneh tapi Ada dan 1001 Isi Dunia. Sedangkan program life style wanita tersaji dalam kemasan , Dunia Belanja, Gaya , Home Living dan Mr Renov.

Tayangan Sport akan meliput pertandingan yang disiarkan langsung mulai Kompetisi Sepakbola Nasional (Copa Indonesia), Sepak Bola Eropa (Liga Inggris dan Lig
a Belanda), Kompetisi Bola Basket Nasiional (IBL), Bola Volly Nasional (Pro Liga). tvOne akan serius dalam mengembangkan program acara yang berbeda dengan program stasiun televisi lain, dengan menayangkan Entertainment Pilihan yang mampu memberikan inspirasi bagi para pemirsa untuk maju dan berpikiran selalu positif, tanpa unsur membodohi.

tvOne secara korporasi mempunyai misi untuk mendorong kemajuan di segala lapisan : individu, kelompok, komunitas, yang pada akhirnya berdampak pada kemajuan bangsa secara keseluruhan. Untuk itu, filosofi logo merefleksikan keinginan tersebut :
• Warna Merah dan Putih melambangkan Indonesia
• Lingkaran dengan angka 1 di dalamnya merupakan simbol persatuan
• Sedangkan penggunaan kalimat berbahasa Inggris, One, menunjukkan kesiapan tvOne dalam kancah pertelevisian global. Mudah dipahami oleh mitra kerja tvOne yang berada di luar negeri serta mencerminkan optimisme kebangsaan, sebagai bangsa Indonesia yang ingin maju

Jajaran manajemen tvOne adalah Direktur Utama, Erick Thohir; Wakil Direktur Utama Ardiansyah Bakrie, Direktur Pemberitaan , Olahraga dan Produksi Sukarni Ilyas; Direktur Teknik Alex Kumara, Direktur Keuangan Charlie Kasim, Direktur Programming dan Marketing Otis Hahijary dan diperkuat oleh sekitar 850 karyawan. Pada awal Tahun ini tvOne memiliki 26 stasiun pemancar dan pada akhir tahun akan menjadi 37 stasiun pemancar di berbagai daerah dengan jumlah potensi pemirsa 162 juta pemirsa.



--
Tribun Timur, Surat Kabar
Terbesar di Makassar
www.tribun-timur.com

Key Facts TV One

KOMPOSISI PEMEGANG SAHAM TV One


* Berdiri pada tahun 2001 oleh pengusaha Abdul Latief.
* Konsep baru: Hilangkan klenik, erotisme, berita kriminalitas dan beberapa hiburan ringan lainnya.
* Sejak tahun 2006, sebagian sahamnya juga dimiliki oleh Grup Bakrie yang juga memiliki antv.
* Pada 14 Februari 2008, Lativi secara resmi berganti nama menjadi tvOne, dengan komposisi 70 persen berita, sisanya gabungan program olahraga dan hiburan.
* Abdul Latief tidak lagi berada dalam kepemilikan saham tvOne.
* Komposisi kepemilikan saham tvOne:

PT Visi Media Asia sebesar 49%
PT Redal Semesta 31%
Good Response Ltd 10%
Promise Result Ltd 10%.



--
Tribun Timur, Surat Kabar
Terbesar di Makassar
www.tribun-timur.com

TVone, Berita 70 Persen, Hiburan dan Olahraga 30 Persen

http://www.inilah.com/berita.php?id=12343
Kamis, 14 Februari 2008
Wajah Baru tvOne Rp 1,3 Triliun
ASTERIA

INILAH.COM, Jakarta â€" Kondisi ekonomi global boleh ketat, Bakrie Grup tetap mampu menggeliat. Dengan kesiapan dana Rp 1,3 triliun, mereka menyulap Lativi menjadi tvOne. Kamis (14/2) malam, tayangan langsung dan segar tvOne resmi diluncurkan.

Tayangan berbau klenik, erotisme, berita kriminal, dan paket-paket hiburan ringan gaya Lativi sudah tutup buku. Sejak semalam, nama dan logo berubah menjadi tvOne.

Tentu, perubahan tidak berhenti sampai di situ. Segmentasi diubah total. tvOne membidik kalangan premium class. Otomatis, komposisi tayangannya pun dirombak habis. tvOne hadir dengan 70% berita dan 30% tayangan olahraga plus hiburan yang terseleksi.

"Kami tidak hanya mengubah logo dan program, tapi juga target pasar. Dengan konsep berita, olahraga dalam dan luar negeri, serta hiburan yang terseleksi, kami ingin membuat masyarakat Indonesia jadi semakin cerdas," kata Direktur Utama PT Lativi Mediakarya Erick Thohir.

Erick meyakini perubahan pola siaran ini akan menjadi tren baru industri pertelevisian. Biasanya, perubahan hanya menyangkut nama dan logo. Tapi, stasiun televisi yang dikelolanya berubah seluruhnya, dari nama, logo, konten tayangan sampai target market.

Nama tvOne dipilih sebagai bagian dari strategi manajemen untuk memberikan suguhan baru, lebih segar sekaligus berbeda di industri pertelevisian nasional.

"Nama tvOne dipilih karena secara individu dan korporasi stasiun televisi ini diharapkan menjadi nomor satu," tandas Erick.

Seiring revolusi teknologi penyiaran dan persebaran informasi, korporasi-korporasi media terbentuk dan menjadi besar lewat kepemilikan saham. Sebuah upaya penggabungan berbentuk joint-venture, kerja sama, atau pendirian kartel komunikasi raksasa.

Fenomena ini bukanlah fenomena bisnis semata, melainkan juga menyangkut sisi ekonomi-politik yang melibatkan kekuasaan.

PT Lativi Media Karya didirikan pada 2001 dan dikuasai Alatief Corporation milik Abdul Latief, pengusaha yang pernah diangkat sebagai Menteri Tenaga Kerja.

Sebelumnya, stasiun televisi ini hendak dinamakan Pasaraya Mediakarya untuk keperluan lini bisnis Latief lainnya, yaitu ritel pakaian. Tapi, jelang mengudara, ditetapkan nama perusahaan ini menjadi PT Lativi Mediakarya.

Dalam perkembangannya, dengan alasan ingin fokus pada bisnis inti keluarga (Pasaraya), Latief akhirnya melepas kepemilikan Lativi. Kini, PT Lativi Mediakarya digawangi tiga pengusaha muda.

Ketiga sosok muda itu tengah bergelora di pelataran bisnis nasional. Ketiganya adalah Anindya Bakrie dari Bakrie Grup, Rosan Perkasa Roeslani (Presiden Direktur Recapital), dan Erick Thohir (Mahaka Grup) yang semula komisaris PT Lativi Mediakarya. Ketiganya bergabung lewat sebuah konsorsium.

Ketiganya juga bukan orang baru di bisnis media. Mahaka Grup, misalnya, punya 50% saham Jak-TV melalui PT Metropolis Media Nusantara. Metropolis adalah pemegang saham pengendali PT Abdi Bangsa Tbk (ABBA), di mana Erick menjadi direktur utama.

Sementara Anindya Bakrie, putra pengusaha Aburizal Bakrie yang juga Menko Kesra, memiliki sekaligus mengelola antv di bawah bendera PT Cakrawala Andalas Televisi yang berbagi saham dengan StarTV, raksasa media Hong Kong milik Rupert Murdoch.

Bakrie Grup memang sudah lama mengincar >i>Lativi, terutama sejak kewajiban utang Lativi kepada Bank Mandiri senilai Rp 418 miliar telah dilunasi oleh Konsorsium Capital Managers Asia Pte Ltd (CMA) awal 2007.

Sebagai sebuah institusi jasa keuangan yang berbasis di Singapura, CMA sudah memiliki kedekatan dengan kelompok usaha Bakrie. Pasalnya, CMA menanamkan investasi Rp 250 miliar untuk pengembangan Esia di 2004 dan tercatat pula sebagai pemegang saham minoritas di antv.

Erick menampik rumor yang menyatakan StarTV masuk dalam struktur kepemilikan PT Lativi Mediakarya. Tapi, sebuah sumber mengungkapkan grup media yang berbasis di Hong Kong itu masuk sebagai salah satu pemilik meski saham mayoritas didominasi Bakrie Grup.

Kemungkinan besar siaran tvOne bakal menjadi salah satu konten B-TV, televisi berbayar milik kelompok usaha Bakrie. “Mungkin baru mengisi B-TV pertengahan tahun,” kata Erick.

Kehadiran tvOne mempertegas kecenderungan konsolidasi bisnis teve yang marak dilakukan pemilik perusahaan untuk menekan biaya operasi.

Kepemilikan media, ternyata, bukan hanya berurusan dengan persoalan produk, tapi berkaitan pula dengan bagaimana kondisi sosial, citra, berita, pesan, dan kata-kata dikontrol dan disosialisasikan kepada masyarakat.

Juga tak bisa dilepaskan dari karakteristik institusi bisnis yang diharapkan mampu memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional. [E1/I3]


--
Tribun Timur, Surat Kabar
Terbesar di Makassar
www.tribun-timur.com

TVone, visi, misi, pengelola, dan penyiar baru

Informasi yang cukup lengkap mengenai wajah baru TVone: visi, misi, struktur pengelola, penyiar sekalian sedikit breakdown mengenai slogan baru sebagai TV berita, sport, dan entertaining.
sumbeR:http://nealsterling.wordpress.com/2008/02/15/relaunch-of-lativi/


Relaunch of Lativi

Halo semua…,

Kemarin, 14 Februari 2008 ada sesuatu yang beda di layar kaca kita. Relaunch Lativi menjadi TV One. Segmentasi TV ini pun berbeda, Lativi dari yang semula adalah stasiun TV hiburan, sekarang berubah menjadi Channel Berita, Sport dan Entertainment.

Yang menarik juga, TV ini diresmikan oleh bapak Presiden Susilo B. Yudhoyono dengan simbolis, yaitu dengan menekan tombol untuk menjalankan grafik logo tune dari tv ONE

 tvOne secara progresif memberikan inspirasi kepada masyarakat Indonesia berusia 15 tahun ke atas untuk berpikir maju dan melakukan perbaikan bagi diri sendiri dan masyarakat sekitar melalui program informasi, olahraga dan hiburan (information, sports & entertainment)

tvOne akan menyajikan program yang mengandalkan INFORMATIONS, SPORTS dan SELECTED ENTERTAINMENT. Keseriusan tvOne dalam menerapkan strategi tersebut dibuktikan dengan menampilkan format-format yang inovatif dalam hal pemberitaan dan penyajian program. Sebagai pendatang baru dalam dunia News, tvOne telah mempersiapkan bentuk berita baru yang belum pernah ada sebelumnya, seperti Apa Kabar Indonesia yang telah tayang perdana pada Hari Senin 11 Februari 2008. Apa Kabar Indonesia adalah program informasi dalam bentuk diskusi ringan topik-topik terhangat bersama para narasumber dan masyarakat, disiarkan secara langsung pada pagi hari dari studio luar tvOne. Program berita hardnews tvOne dikemas dengan judul : Kabar Pagi, Kabar Pasar, Kabar Siang, Kabar Petang dan Kabar Malam. Kabar Petang menampilkan bentuk pemberitaan yang belum pernah ditampilkan oleh stasiun televisi lainnya, yaitu menghadirkan secara langsung berita-berita dari Biro Pusat –Jakarta dan beberapa Biro Daerah (Medan, Surabaya, Makassar) dengan bobot pemberitaan yang berimbang antar semua Biro. Kabar Malam bekerjasama dengan seluruh media nusantara untuk menghasilkan editorial yang lengkap, kredibel dan dinamis.

tvOne memproduksi pula program-program current affairs yang eksklusif seperti Telusur, Kerah Putih, Menyingkap Tabir, Mata Kamera. Program-program documentary tvOne mengandung unsur petualangan dan edutainment dengan judul program : Nuansa Seribu Pulau, Sahabat Satwa, Panji Sang Penakluk dan Khatulistiwa. Untuk sajian reality show, dihadirkan Adrenalin, Aneh tapi Ada dan 1001 Isi Dunia. Sedangkan program life style wanita tersaji dalam kemasan , Dunia Belanja, Gaya , Home Living dan Mr Renov.

Tayangan Sport akan meliput pertandingan yang disiarkan langsung mulai Kompetisi Sepakbola Nasional (Copa Indonesia), Sepak Bola Eropa (Liga Inggris dan Lig
a Belanda), Kompetisi Bola Basket Nasiional (IBL), Bola Volly Nasional (Pro Liga). tvOne akan serius dalam mengembangkan program acara yang berbeda dengan program stasiun televisi lain, dengan menayangkan Entertainment Pilihan yang mampu memberikan inspirasi bagi para pemirsa untuk maju dan berpikiran selalu positif, tanpa unsur membodohi.

Pada awal Tahun ini tvOne memiliki 26 stasiun pemancar dan pada akhir tahun akan menjadi 37 stasiun pemancar di berbagai daerah dengan jumlah potensi pemirsa 162 juta pemirsa.

VISI & MISI

tvOne secara korporasi mempunyai VISI & MISI untuk mendorong kemajuan di segala lapisan : individu, kelompok, komunitas, yang pada akhirnya berdampak pada kemajuan bangsa secara keseluruhan.
Untuk itu, filosofi logo merefleksikan keinginan tersebut :
• Warna Merah dan Putih melambangkan Indonesia
• Lingkaran dengan angka 1 di dalamnya merupakan simbol persatuan
• Sedangkan penggunaan kalimat berbahasa Inggris, One, menunjukkan kesiapan tvOne dalam kancah pertelevisian global. Mudah dipahami oleh mitra kerja tvOne yang berada di luar negeri serta mencerminkan optimisme kebangsaan, sebagai bangsa Indonesia yang ingin maju

DI BALIK tvOne
tvOne diperkuat oleh sekitar 850 karyawan yang terpilih dan terampil di bidangnya masing – masing dengan jajaran pimpinan manajemen :

- Direktur Utama : Erick Thohir;
- Wakil Direktur Utama : Ardiansyah Bakrie,
- Direktur Pemberitaan , Olahraga dan Produksi : Sukarni Ilyas;
- Direktur Teknik : Alex Kumara,
- Direktur Keuangan : Charlie Kasim
- Direktur Programming dan Marketing : Otis Hahijary
www.tvone.co.id

Pemberitaannya digawangi oleh Karni Ilyas, didukung VIZRT ( sistem grafik yang juga digunakan CNN, Fox News, dan di Indonesia digunakan oleh Metro TV, RCTI, dsb. ), para presenternya ialah presenter yang tidak asing lagi, mereka ialah :

  • Alfito Deannova (ex-SCTV)
  • Shinta Puspitasari
  • M. Rizki (ex-Trans)
  • Grace Natalie (ex-antv)
  • Tina Talisa (ex-Trans)
  • Reza Prahadian
  • Rahma Sarita (ex-Metro)
  • Indy Rahmawati (ex-antv)

Kebanyakan dari antv, oh ya Abdul Latief sudah keluar dari manajemen, kenapa ya?

Anyway, sekilas sih memang baru, tapi kalau melihat apa yang ditampilkan, image Lativi-lah yang masih terasa dalam penyajiannya…

Sukses untuk tvONE


SUMBER: http://nealsterling.wordpress.com/2008/02/15/relaunch-of-lativi/

One Response to "Relaunch of Lativi"

on 15 February 2008 at 4:41 Stephen Choh

hehe…apanya yang baru ya? cuma logo kalee… plus presenter2 beritanya. yang laen mah masih sama… image/bau Lativi masih belum mau ilang alias lengket seperti permen karet…


--
Tribun Timur, Surat Kabar
Terbesar di Makassar
www.tribun-timur.com

Pergeseran Positioning Global TV

Dari muda ke keluarga muda, all segment

GLOBAL INFORMASI BERMUTU, PT(GLOBAL TV)

Company Description

PT. Global Informasi Bermutu (GTV) was established in March 22nd, 1999. Since it first aired in October 8th 2001, GLOBAL TV has quickly positioned itself as the youngest, private, national coverage TV station in Indonesia targeted for young audience. In 2006, GLOBAL TV launched its new vision in becoming to concentrate on serving the young family from all social segments. The division of air time will be 8 hours of NICKELODEON programs, 8 hours of MTV programs and 8 hours of GLOBAL TV programs. Global TV is indirectly own by by PT. Global Mediacom Tbk through PT. Media Nusantara Citra (MNC). More info about GTV please see our website at www.globaltv.co.id


--
Tribun Timur, Surat Kabar
Terbesar di Makassar
www.tribun-timur.com

Wednesday, February 27, 2008

Opini di Tribun Timur tentang Televisi Kabel di Daerah oleh Anggota KPID Sulsel



Rabu, 27-02-2008 
Spirit Cianjur untuk Televisi Kabel
Opini Tribun
 
Oleh: A Taddampali, Wakil Ketua KPID Sulawesi Selatan

Pada tanggal 19 - 22 Februari 2008, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyelenggarakan Rapat Pimpinan (rapim) KPI Bidang Perizinan di Hotel Yasmin, Cianjur, Jawa Barat, yang diikuti oleh seluruh Koordinator Bidang Perizinan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) se Indonesia.
 
Salah satu agenda rapim dan mendapat perhatian yang cukup serius adalah persoalan televisi kabel.
Perkembangan penyiaran di Indonesia memang cukup pesat. Hanya saja, perkembangan itu tidak dibarengi dengan perluasan jangkauan siaran melalui pendirian menara pemancar di berbagai daerah. Masih ada daerah yang belum terjangkau oleh siaran televisi. Ceruk pasar inilah yang dimasuki oleh para pengusaha televisi kabel yang saat ini marak bermunculan di berbagai daerah di Indonesia.
Televisi kabel dibangun untuk mengatasi kesulitan penerimaan siaran televisi yang dialami oleh daerah-daerah dengan penerimaan sinyal yang buruk dan bahkan tidak ada sinyal sama sekali atau obstacle. Caranya cukup sederhana. Operator televisi kabel menangkap siaran melalui antena parabola lalu men-sharing atau menyambungkan kepada pelanggannya melalui kabel coaxial tanpa bisa melakukan sensor siaran atau konten.
Serat Optik
Keberadaan televisi kabel semacam ini memang tidak lepas dari sejarah penyiaran kita. Prihadi Murdiyat menyebutkan bahwa kabel telah menjadi penghubung yang efektif antara operator siaran televisi dan pelanggannya. Menurut literatur, sistem televisi kabel pertama dibuat pada tahun 1948 dengan menggunakan kabel jenis twin head. Kabel ini berbentuk pita seperti yang dipasang pada televisi hitam putih.
Sistem berikutnya dibuat pada tahun 1950 dan telah menggunakan kabel coaxial. Kabel ini tersusun dari konduktor dalam yang diselimuti isolator dan konduktor luar seperti yang dipasang antara antena dan pesawat televisi saat ini. Pada perkembangan selanjutnya, media penghubung itu juga memanfaatkan jaringan microwave, satelit, dan kabel serat optik.
Pada tahun 1948, Ed Parson yang tinggal di Astoria, Oregon, membuat sistem community antenna television (CATV) dengan media kabel twin head dan dipasang dari satu atap rumah ke atap rumah lain. Lalu pada tahun 1950 Bob Tarlton membangun sistemnya di Landford, Pennsylvania, dengan menggunakan kabel coaxial yang dipasang pada tiang. Model inilah yang kemudian banyak digunakan oleh penyelenggara televisi kabel, termasuk yang marak di berbagai daerah di Indonesia.
Pada perkembangan selanjutnya, bisnis televisi kabel telah menjadi lahan yang menggiurkan. Keuntungan yang diperoleh dari usaha ini lumayan besar. Maka bermunculanlah para pengusaha televisi kabel di daerah. Ada yang mempunyai pelanggan hingga ratusan rumah, tetapi ada juga yang mempunyai pelanggan puluhan rumah saja.
Tidak Senafas
Namun saat ini masih sering terjadi persinggungan diantara para pengusaha televisi kabel di daerah. Pemicunya juga beragam. Tetapi yang paling sering adalah akibat persaingan usaha dan perebutan pelanggan. Di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan bahkan ada dua pengusaha televisi kabel yang bersitegang dan berujung pada bentrok fisik. Untuk menarik pelanggan, bahkan ada kasus pengusaha televisi kabel yang menyiarkan video porno. Kini kasusnya sudah ditangani oleh kepolisian.

Memang semestinya di Indonesia ada regulasi tentang lembaga penyiaran berlangganan yang yang di dalamnya termasuk yang akan menggunakan satelit, teresterial, dan kabel. Penggunaan satelit biasanya untuk lingkup nasional, sedangkan penggunaan teresterial adalah untuk nasional dan lokal, sementara penggunaan kabel hanya di tingkat lokal.
Ketentuan Umum Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (UU Penyiaran) menyebutkan; Penyiaran adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran.
Berdasarkan ketentuan itu, maka televisi kabel masuk dalam domain penyiaran. UU Penyiaran sendiri hanya mengakomodir empat lembaga penyiaran, yakni Lembaga Penyiaran Publik, Lembaga Penyiaran Swasta, Lembaga Penyiaran Komunitas, dan Lembaga Penyiaran Berlangganan (Pasal 13 Ayat 2). Sesuai dengan model pemancarluasannya yang hanya diterima oleh para pelanggannya, maka televisi kabel tergolong Lembaga Penyiaran Berlangganan.
Untuk teknis pelaksanaannya, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 52 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Berlangganan. Namun PP tersebut rupanya tidak senafas dengan praktik penyelenggaraan televisi kabel. Frame pembuatan PP tersebut adalah praktik televisi berlangganan seperti Indovision, Cable Vision, dan semacamnya, sehingga syarat administrasi dan perizinannya sangat berat bagi pengelola televisi kabel di daerah. Akibatnya, terjadi pelanggaran copyright atau hak cipta di bidang penyiaran oleh penyelenggara televisi kabel.
Rapim KPI di Cianjur itu kemudian melahirkan berbagai rekomendasi terkait televisi kabel. KPI berpendapat bahwa maraknya televisi kabel di berbagai daerah di Indonesia, terutama di wilayah blank spot, adalah merupakan potensi lokal yang sangat berkaitan erat bagi kepentingan distribusi informasi dan ekonomi masyarakat daerah yang perlu mendapatkan perhatian.
Berdasarkan asas manfaat yang dianut dalam UU Penyiaran, televisi kabel telah membantu upaya redistribusi siaran kepada masyarakat yang berada di wilayah blank spot atau dengan kualitas siaran televisi yang kurang baik. Untuk itu, televisi kabel harus diarahkan agar dapat berjalan sesuai dengan koridor hukum dan peraturan yang berlaku.
Rapim KPI juga mengamanatkan agar segera disusun konsep peraturan yang dapat mengakomodir keberadaan televisi kabel serta penyusunan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS) yang mengatur tentang Lembaga Penyiaran Berlangganan.
Yang menarik, Rapim juga mengamanatkan agar KPI Pusat berkoordinasi dengan Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) untuk menyusun sebuah Peraturan Menteri (Permen) atau Surat Keputusan Bersama terkait dengan Lembaga Penyiaran Berlangganan agar dapat menyerap aspirasi keberadaan televisi kabel.
Rekomendasi-rekomendasi dari Rapim KPI di Cianjur itu sedikit banyak telah melegakan berbagai pihak, terutama yang terkait dengan televisi kabel. Ada semangat baru untuk menjalankan tugas dan kewajiban KPI sesuai amanat UU Penyiaran, salah satunya adalah menjamin masyarakat untuk memperoleh informasi yang layak dan benar sesuai dengan hak asasi manusia.
Bagi pengusaha televisi kabel sendiri diharapkan membentuk asosiasi dan menetapkan kode etik bersama agar ada aturan yang bisa ditaati bersama. Asosiasi ini juga yang nantinya akan melakukan kerja sama dengan penyelenggara Lembaga Penyiaran Berlangganan yang sesungguhnya dan selama ini kontennya telah dimanfaatkan oleh pengusaha televisi kabel untuk disiarkan kepada para pelanggannya.
Tentunya kerja sama itu melalui perhitungan bisnis yang disepakati bersama. Misalnya asosiasi televisi kabel inilah yang akan mengurus soal biaya hak cipta penyiaran dari masing-masing anggotanya. Dengan demikian, tidak ada lagi pelanggaran hak cipta seperti yang selama ini terjadi.

Spirit Cianjur itu telah memberikan harapan baru kepada semua pihak. Kita berharap status hukum televisi kabel di daerah akan semakin jelas. Dengan demikian masyarakat sebagai pengguna juga akan semakin nyaman menerima siarannya dan pada akhirnya akan mendorong terbentuknya masyarakat informasi di daerah-daerah. Yang tak kalah pentingnya, spirit Cianjur telah menjadi tanda semakin membaiknya hubungan antara KPI dan Pemerintah, dalam hal ini Depkominfo.

Tribun Timur, Selalu yang Pertama

Ada peristiwa menarik?
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233
email: tribuntimurcom@yahoo.com

Hotline SMS untuk berlangganan koran Tribun
Timur, Makassar (edisi cetak) : 081.625.2266.
Telepon: 0411 (8115555) (***)
 

--
Tribun Timur, Surat Kabar
Terbesar di Makassar
www.tribun-timur.com

Tuesday, February 26, 2008

Kiat TV Swasta dan TV Baru Bersaing dengan Pemain Lama

ARTIKEL ini sudah cukup lama, 2005. Kendati begitu, aktualitasnya masih terasa: Bagaimana kiat pengelola TV baru, TV lokal pula, bermain di pasar persaingan yang begitu ketat, pasar yang membutuhkan begitu banyak modal untuk bisa masuk.

Di kompentisi televisi kita melihat bagaimana uang dan modal bersaing. Uang saja tidak cukup, harus kreatif. Kreatif saja tidak cukup, harus mampu membaca kebutuhan pasar. Mampu membaca kebutuhan pasar saja tidak cukup, harus mampu merumuskan produk yang pas untuk memenuhi kebutuhan pasar tersebut.
Celakanya, persaingan itu tidak dalam term yang pendek. Bukan pertandingan bola yang hanya 2x45 menit. Ini persaingan menit demi menit, day to day, bahkan tahun demi tahun. Siapa yang lengah dia kalah. Kesalahan merumuskan strategi dan produk yang pas akan berakibat sangat mahal.


26 June, 2005

KOMPAS MINGGU, 19 Juni 2005

Jurus Alternatif Televisi Jakarta

GEORGE Michael bersama Andrew Ridgeley yang tergabung dalam kelompok Wham itu terlihat di Jak TV, Jumat (17/6) siang. Mereka membawakan lagu kondangnya, Wake Me Up Before You Go Go. Itu lagu populer yang sering diputar di radio-radio negeri ini sekitar 20 tahun silam.
Bagi sebagian penonton Jak TV, penampilan Wham dalam program Vh1 itu boleh jadi merupakan semacam nostalgia. Munculnya Wham di layar kaca negeri ini memang bisa disebut langka karena mereka memang sudah bubar pada tahun 1986. Kelangkaan itu menjadi salah satu unsur hiburan alternatif-setidaknya jarang ditampilkan televisi lain yang suka membuat acara seragam itu.
Program Vh1 yang mendominasi suguhan Jak TV itu antara lain menayangkan Phil Collins yang membawakan Groovy Kind of Love, Cindy Lauper dengan True Colors, sampai Spandau Ballet dengan True-nya. Boleh jadi, tayangan lawas itu memang berkenan di hati pemirsa.
"Ih, baru kali ini aku liat Spandau Ballet. Lagunya enak- enak, seperti radio yang divisualisasikan," kata seorang pemirsa usia 40-an tahun tentang tayangan lagu-lagu lama itu.
Stasiun televisi lokal yang bermain di Jakarta berhitung cermat dengan pasar Jakarta. Mereka kemudian mencari apa yang disebut sebagai penonton alternatif yang kemudian disuguhi tontonan alternatif pula. Selain Jak TV, O Channel yang mulai mengudara 2 Juni 2005 juga menjual hiburan alternatif.
Apa boleh buat, Jakarta sudah sarat hiburan, termasuk hiburan televisi yang disuguhkan 11 stasiun televisi nasional plus televisi kabel yang dikonsumsi sebagian publik Jakarta.
"Berat rasanya jika kami melawan televisi lain, baik untuk jangkauan dan program. Kami cari pasar yang agak kosong. Kami membidik penonton alternatif," kata Direktur Utama Jak TV, Eric Tohir.
Jak TV dan juga O Channel sama-sama membidik penonton alternatif, yaitu pasar golongan A dan B atau kalangan yang secara sosial ekonomi masuk dalam kelas menengah atas. Eric yakin jumlah kalangan tersebut cukup banyak di Jakarta, dan bisa dijadikan pasar Jak TV.
Eric mencirikan pasar itu sebagai orang-orang yang sibuk, butuh hiburan, tetapi mempunyai waktu sempit. Mereka diasumsikan sebagai kaum yang memburu hiburan yang selama ini tak tersuguhkan stasiun televisi yang telah ada.
"Mereka adalah orang yang butuh hiburan di luar yang ada sekarang ini. Mereka berwawasan luas," kata Eric tentang psikografi pasar Jak TV. Kebutuhan mereka diterjemahkan Jak TV dengan acara seperti Golf Academy yang menyorot seputar olahraga golf, termasuk tips-tips bagi para pegolf. Ada juga Rally World yang memuat informasi seputar dunia reli mobil. Kemudian disuguhkan juga Fashion File.
"Di televisi nasional kita kan tak bisa omong soal cowok dandan," kata Eric. Dalam koridor alternatif itu pula, Jak TV juga menampilkan acara Entertainment Tonight (ET). Acara hiburan populer yang tayang perdana pada tahun 1981 di Amerika Serikat itu memuat informasi dan gosip paling hangat. Konon acara ini disaksikan 12 juta penonton pada setiap tayangannya.
Dalam konteks yang kurang lebih sama dengan jenis Wham dan Billy Joel tersebut, Jak TV juga memutar kembali serial Charlie’s Angels yang dibintangi Kate Jackson, Farrah Fawcett, dan Jaclyn Smith. Serial tersebut pernah populer di Indonesia pada era awal 1980-an. Charlie’s Angel yang terkesan "kuno" dalam lanskap hiburan televisi saat ini tersebut justru mempunyai suasana nostalgia. Oleh karenanya dianggap berdaya jual. Setidaknya, serial itu agak berbeda dengan suguhan televisi lain.
JURUS tampil beda juga digunakan O Channel. Seperti dikatakan Meuthia Kasim, Managing Director O Channel, pihaknya perlu menyesuaikan dengan gaya hidup kalangan usia 18-49 tahun dari masyarakat menengah-atas metropolitan.
"Hiburan di O Channel pasti bukan sinetron seperti yang ditampilkan stasiun-stasiun televisi nasional. Kami tidak bermain di situ," kata Meuthia Kasim.
Acara yang masuk kategori "bukan sinetron" itu sebagian diambil O Channel dari CHUM Television International (CTI), Kanada. Misalnya acara fashion. Agar ada rasa lokalnya, O Channel perlu memasukkan muatan lokal, contohnya dengan melibatkan perancang mode lokal. "Kalau toh memang tidak bisa, ya setidaknya host-nya orang kita sendiri," kata Meuthia Kasim.
Muatan lokal seperti yang disuguhkan kebanyakan televisi lokal di Indonesia juga dianut televisi lokal di Jakarta. O Channel menayangkan DKI 15 yang disebut Meuthia sebagai magazine show, majalah udara, yang mengupas persoalan di Jakarta secara detail. Misalnya soal banjir dan dampaknya bagi kalangan menengah atas Jakarta. Ada juga The Box yang memberi kesempatan bagi warga Jakarta untuk mengutarakan unek-unek soal apa saja selama satu menit.
Jak TV menerjemahkan kebutuhan lokal lewat acara Exploring Jakarta. Acara yang ditayangkan tiga kali sehari dengan durasi dua menit itu mengajak penonton mengunjungi artefak-artefak sosial kultural yang menarik di Jakarta. Salah satunya adalah tempat jajan klasik, kedai es krim Ragusa di Jakarta Pusat.

Kebedaan tayangan televisi lokal Jakarta juga ditunjukkan lewat acara di balik tayangan, seperti acara O Access di O Channel yang menjual proses di balik penayangan acara. Jika dalam proses tersebut terjadi kesalahan yang manusiawi sifatnya, maka ia tidak dianggap sebagai aib.
"Pernah pula kami menampilkan suatu saat ketika Plaza Indonesia gelap karena aliran listrik putus. Untuk konsumsi televisi nasional peristiwa itu mungkin enggak laku. Tapi, buat televisinya orang Jakarta seperti O Channel, ini berita bok," kata Meuthia.
Untuk menarik pemirsa, O Channel tak ragu mengusung para penyiar radio yang sudah dikenal pendengar di Jakarta dan sekitarnya, seperti Karina, Lena Toepan, Kemal, dan Melissa Karim sebagai pengantar acara. Menurut Meuthia, ini merupakan salah satu strategi, sebab sebelumnya grup MRA yang membangun stasiun televisi ini relatif sukses bermain pada jalur radio dengan membawahi 10 stasiun radio seperti Hard Rock, MTV Sky, dan Cosmopolitan.
O Channel sadar benar bahwa penonton harus diikat dengan acara yang benar-benar terancang dan mengena di hati. Jika tidak, mereka akan melompat ke saluran lain. Meuthia mengutip hasil riset yang mengatakan bahwa perilaku penonton televisi itu hampir sama dengan pendengar radio, yaitu mereka tidak loyal.
"Acaralah yang membuat orang betah menonton, bukan stasiun televisinya," kata Meuthia sambil menyebutkan salah satu acara andalan O Channel adalah Rockstar. (CP/XAR)
Favorite site: www.tribun-timur.com

TVONE, Memikat Tapi Belum Sempurna

TVONE ganti wajah, content berita, style yang lebih elegan, berita dan sport yang lebih menonjol. Sayang, entertaimennya belum terlampau memikat. Jejak-jejak Lativi, yang kesannya low taste, masih tersisa di segmen entertainmen, Film, misalnya, masih stok lama.
Tapi secara umum, TVONE mampu membuang citra lamanya yang low taste, Sajian beritanya, desain maupun kecepatan serta coverage liputan yang terkesan luas pantaslah membuat pengelola stasiun televisi lain ambil ancang-ancang memasuki era persaingan baru.
Saya mendengar, beberapa key person TV lain di bidang pemberitaan migrasi ke TVONE. Mungkin itu juga faktor kuat yang membuat pengelola TV lain mewaspadai reborn Lativi.


Sumber: Jawa Pos

Jumat, 15 Feb 2008,

Lativi Ganti Baju Jadi TV One

JAKARTA - Setelah mengkuisisi saham PT Lativi Media Karya dari pemilik lama Abdul Latief, pemilik baru, Grup Bakrie, mengganti nama Lativi menjadi tvOne. Memanfaatkan momentum hari kasih sayang Valentine, tvOne diluncurkan tadi malam. Televisi ini akan fokus untuk menyajikan tayangan berita, olahraga dan hiburan. Ini menyesuaikan dengan motonya Informations, Sport and Entertainment.

Dirut tvOne Erick Tohir optimistis, perubahan brand tersebut akan mendukung target pendapatan iklan tahun ini, Rp 275 miliar. "Perubahan nama ini adalah upaya strategi manajemen untuk memberikan sesuatu yang berbeda di industri pertelevisian Indonesia," jelasnya di sela-sela resepsi launching tvOne di JCC, Jakarta kemarin malam (14/2).

Peluncuran resmi dilakukan Presiden SBY dari Istana Negara. Acara itu juga dihadiri oleh Menko Kesra Aburizal Bakrie dan Menkominfo Muhammad Nuh.

Karni Ilyas, direktur Pemberitaan, Olahraga, dan Produksi, menambahkan tvOne akan membangun citra melalui penyajian berita yang cepat, akurat, dan eksklusif.(iw/roy)

Favorite site: www.tribun-timur.com

Saturday, February 23, 2008

Check out my Facebook profile

facebook

Check out my Facebook profile


I set up a Facebook profile with my pictures, videos and events and I want to add you as a friend so you can see it. First, you need to join Facebook! Once you join, you can also create your own profile.

Thanks,
Febric

Here's the link:
http://www.facebook.com/p.php?i=1110170857&k=S2E24YP3TVTF61DDXEXTY&r&v=2
See who else has invited you to Facebook:
Riyan MangkuraRiyan Mangkura
0 friends
0 photos
This e-mail may contain promotional materials. If you do not wish to receive future commercial mailings from Facebook, please opt out. Facebook's offices are located at 156 University Ave., Palo Alto, CA 94301.

Pemeran Film Bandung With Love Suka Coto Makassar


Sumber: Koran Tribun Timur, Makassar

Sabtu, 23-02-2008 | 20:56:27 
Pemeran Film Bandung With Love Suka Coto Makassar
Laporan: Meliana Bory. mhellonk_ftuh@yahoo.com
 
Makassar, Tribun - Pemeran utama pria film From Bandung With Love, Richard Kevin, rupanya sudah dua kali ke Kota Makassar. Baik artis, wisatawan, ataupun hanya sekadar singgah ke kota yang dijuluki kota Anging Mammiri ini, tidak bakalan merasa afdal jika tidak mencoba masakan khasnya.
 

Hal inipun juga dirasakan Richard Kevin. Dua kali kunjungannya ke kota ini, hidangan coto Makassar, merupakan makanan yang menjadi favorit sekaligus dirindukannya.

"Gue paling suka makan makanan satu ini, aroma dan rasanya enak," tuturnya saat mengikuti kegiatan road show fil From Bandung With Love, di SMA Kartika Chandra Kirana (Kachak) Makassar, tadi siang. Kegiatan tersebut digelar oleh Telkomsel.

Selain Kevin, salah seorang pemain pendukung di film yang diproduseri oleh Lghthouse Production itu, Lulu, juga hadir dalam kegiatan itu. Meski baru pertama kali menginjak kota yang sudah berusia 400 tahun ini, Lulu, sangat penasaran dengan rasa yang didapatkan dari sop konro.

"Pokoknya hunting makanan, salah satunya sop konro wajib dilakukan. Saya mau rasa masakan khas yang satu itu," katanya yang disertai senyuman. (*)



Tribun Timur, Selalu yang Pertama

Ada peristiwa menarik?
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233
email: tribuntimurcom@yahoo.com

Hotline SMS untuk berlangganan koran Tribun
Timur, Makassar (edisi cetak) : 081.625.2266.
Telepon: 0411 (8115555) (asw)
 

--
Tribun Timur, Surat Kabar
Terbesar di Makassar
www.tribun-timur.com

Friday, February 22, 2008

TIPS MENAIKKAN PAGE RANK DAN TRAFIK WEBSITE DARI SUBMITEXPRESS.COM

Ini informasi yang sangat kaya menganai bagaimana cara menaikkan page rank dan traffic ke website kita. Semoga bermanfaat.

SumbeR: http://www.submitexpress.com/newsletters/feb_24_05.html

Submit Express Newsletter #66
Feb 28 2005
 

Table of Contents

1- Search Engine Strategies in New York City Feb 28-March 3
2- How to find directories that would increase your Search Engine Rankings
3- New Google HTML Tag Disallows Link Spam
4- About.com Purchased by New York Times
5- New MSN Search Finally Released with Mixed Reviews

 

$100 of FREE advertising at www.metricsdirectoffer.com/sen1 . Bring your site up to 6,500 visitors for FREE with $100 of free search advertising from MetricsDirect. Been using Overtur or Google to marke online? You're missing a big opportunity. With 20 million users, MetricsDirect delivers customers, right when they want your product.

Visit www.metricsdirectoffer.com/sen1 for $100 of FREE advertising.

automatic URL submission free

1- Search Engine Strategies in New York City Feb 28-March 3

Search Engine Strategies show is going to be in New York City next week Feb 28-March 3, 2005 and we will be exhibiting there. This is the premier Search Engine Marketing show held in several locations every year. Many search engine representatives will be on hand to speak. This year Jerry Yang CEO and co-founder of Yahoo will be speaking at the keynotes. Many SEO companies will be exhibiting and best of all it's a chance to mingle with like minded SEO professional and network. This is an event not to be missed, especially if you are in NY Area.

Make sure to stop by our booth and if you mention that you are a member in our Newsletter you will receive a T-shirt.

We are also offering 50% discount conference passes. Contact us if you would like a discount pass.

For more details see:

http://www.jupiterevents.com/sew/winter05/index.html

In this issue you will find a good article about how to find the best directories to submit to that will benefit your rankings as well as news about purchase of About.com by New York Times and the launch of New MSN Search.

Feel free to forward this email to all your friends that have websites and could benefit from this information.

Subscription is completely free and can be obtained at:
http://www.submitexpress.net/newsletters.html

Thanks,
Pierre Zarokian
President, Submit Express, Inc.

automatic URL submission free

Need a Merchant Account?
Visit Total Merchant Services

automatic URL submission free

2- How to find directories that would increase your Search Engine Rankings

Directory submissions if done right could be a great way to increase the number of links to your website and hence increasing your rankings. One major benefit the directory links provide is that the link would be from a highly relevant category to your site, which now days could be a factor in deciding the theme of your site and helping you rank better for keywords related to that topic.

When doing directory submissions there are several factors to look for in picking the right directories and not wasting your time or money.

A- Does the directory have a PageRank?

Check if the directory has a high PageRank. A PageRank of at least 5 is preferred for the main page. Also, check the internal category pages of the directory to see if PageRank is passed on to the internal pages, most importantly you want the category that your site would possibly be listed under to have a at least a PageRank of a 2. The way the Google PageRank system works is that a link from a higher PageRank page will give you a higher value. Getting links from low value PageRank sites is a waste of time, unless you think the PR will go up sometime in the next few months.

B- Does the directory use dynamically generated pages that have trouble getting indexed in search engines?

A quick way to find out if the category pages of the directory are getting indexed would be to use the site command in Google and Yahoo to see if there are many pages that are indexed. The command is typed in the following format in Google search box:

Site:www.domainname.com

If you see hundreds of pages listed with their own unique title tags and descriptions, that is a good sign that the directory is search engine friendly and you should continue to the next step. If not, forget about using this directory.

C- Does the directory give you direct link to your site or does it use a tracking code?

Some directories will not give you a direct link to your domain, meaning they will also not pass on a link value or PageRank. The easiest way to check for this is by holding your mouse on some existing site in the directory and check the URL appearing on the bottom of your browser. If the link shows a tracking URL, then you have your answer: stop right there. Skip submitting to that directory.

If you see a direct link to your site that is a good sign, but still does not mean they are linking directly as they could be using a JavaScript to hide the fact or they may be even using the new Google "Rel" Tag (which is explained in more detail in the next section of this newsletter). At this point you need to check the source code of the site, by doing a View Source on your browser or using our PageSnooper tool: http://www.submitexpress.com/snooper/

Check the source code of the site to see if the links are a direct link using HTML tag such as:
<a href="http://www.submitexpress.com/">Submit Express</a>

If it is a JavaScript link, or a tracking URL or if it has a Rel NOFOLLOW tag, then you also want to skip this directory. The Rel NOFOLLOW Tag will be something like this:

<a href="http://www.submitexpress.com/" rel="NOFOLLOW">Submit Express</a>

The Rel NOFOLLOW Tag tells Google and other search engines not to follow that link or give it credit. It was created for site owners to control spam on Blogs, forums and guest book type sites, but some others have started using this tag to try and keep PageRank Value from passing on to other external sites and keep their own rankings higher.

D- Does the category that you are submitting to have too many sites listed?

Preferably you want to be listed on a page of the directory that does not have too many other sites listed. We prefer 25 sites or less per page and no more than 50 at worst case scenario. Google has published in their Webmaster Guidelines page to keep links under 100. However, the way the Google PageRank system works is that the more links on a page the lesser value is passed on to each site, so you should try to find categories that do not have too many other sites listed.

E- Does link credit get passed on to the sites listed in the directory?

Pick several random sites from the directory, preferably from pages with at least a PR 3 and check their backlinks in Google, Yahoo and MSN. In Google and MSN you would check by the following syntax:
link:www.domainname.com

In Yahoo type in this format:
linkdomain:www.submitexpress.com

What we are looking for here is to check the results and see if there is a link from the particular directory appearing in the search results. This might be a little time consuming if you get hundreds of backlinks in the results. If the link command is showing hundreds of links for the site you checked, it is probably good idea to skip checking that one and go back to directory and pick another site to check. Keep doing this until you find a site with less than 50 links. Then go though the search results to see if you can find a result showing a link from the directory.

In our past experiments, we've found that most of the time Google would not show backlinks to many of the sites we checked from the directories in question, especially if the PageRank of the category of the directory we were checking was less than 4. However, this does not mean it is a bad directory. Keep checking several sites, maybe about 10-20 and if you find at least one backlink in Google then that is a very good sign.

Usually Yahoo and MSN display more backlinks then Google does, so it also could mean that directory links could benefit you more in Yahoo and MSN, more than in Google. If you do not find backlinks in Google to justify a submission to the particular directory, do not discount that directory, because you could still get a benefit in rankings in Yahoo and MSN.

F- Should you choose free directories or fee based directories?

Many free directories are tough to get in due to the volume of submissions they receive. In addition, many are not actively adding new sites as the owners are either too busy or already make enough money from advertising or paid submissions to bother looking at free submissions. However, if you have the time and you feel that the free directory you are looking at is an important one and there are signs that it is getting updated often, then go ahead and submit to them, if the above criteria pass.

In the other hand fee based directories offer a guaranteed review within a few days, but not necessarily a guaranteed inclusion. Make sure to read the submission criteria before you submit, because sometimes if your site does not correspond to their standards, then your site would get declined and you would most often no get a refund. There are hundreds of directories that have a low submission fee of $20.00 to $40.00 that are defiantly worth the price. There are a few such as Yahoo and business.com that charge much more, which should still be considered due to their popularity and authority.

G- Should you choose general directories or industry related directories?

In our opinion both general directories and industry related directories would benefit your rankings as long as they pass our criteria above. In addition, some industry specific directories might bring you additional traffic, so you should definitely try and find specific directories in your industry and consider getting listed in them.

Now we are going to do some of the leg work for you and recommend some good directories that we have found based on the above criteria. Please note we have broken down the directories in free or fee based, but some directories might have both options, which would be indicated.

Free Directories:

Open Directory : This is one of the most popular directories. It is a human based edited directory that is owned by AOL. Hundreds of other sites use the data from this directory for their own directories. Most importantly Google uses this to power their Directory section. A link in DMOZ is a huge ranking factor due to its popularity. However, it is very tough to get listed in DMOZ as it is volunteer based and many volunteers are too slow in editing sites. You might be looking at an average of 6-month listing period. They also have very strict listing criteria.

Joe Ant : Free submission if you become an editor or $39.99 one-time fee, for fee based submission. Main page is PR 6 and many internal category pages have high PR.

About.com : About.com is a huge information and resource site. Many categories have their own editors that write articles on regular basis and sometimes recommend related websites. If you believe that you have a quality site that is unique in content or offerings, then write to the editors and request a mention or link.

Wikipedia : This is not exactly a directory. It is an open source encyclopedia that anybody can contribute to in real-time. In most pages you are allowed to suggest some related sites. If the topic is not too competitive then chances are if you add your link, it will remain there for a long time. However, in competitive topics we have found that links get removed very quickly, sometimes within hours. Anyway, it does not hurt to try.

Fee Based Directories:

Yahoo: $299.00 (Annual Fee)
A listing in Yahoo directory is very beneficial in rankings, especially in Google. Most Yahoo directory pages have high PageRanks. We highly recommend paying this fee to get listed in Yahoo, especially if the category you would be listed under has at least PR 3 or more.

Business.com: $199.00 (Annual Fee)
Business.com is a B2B directory, so you can only submit if you provide services or products to businesses. In certain occasions some consumer sites get through the cracks, but most often you might get declined if you submit a consumer related site and loose your submission fee. Business.com recently raised their directory submission fee from $99.00/yr to $199.00/yr. Up until that time we were always highly recommending a listing in Business.com. However, with the fee hike, there might be better places that you could spend this money and you should only consider getting listed in Business.com, if you are in a highly competitive industry and the category that you would be listed at has at least a PR 3.

GoGuides.org: $39.99 (One Time Fee)
GoGuides.org was formed by an ex-editor of the original GoGuides Directory which was part of Infoseek. Infoseek was bought out by Disney several years ago and renamed to go.com and the GoGuides directory was put to sleep. This directory has done a good job to bringing back to life a similar version of the old directory. The main page has PR 6 and many internal pages have high PR.

 

Gimpsy: $40.00 (One Time Fee) or Free
Here is another directory with a PR of 6 and internal category pages having high PR's. The fee based submission will also list you in the top of the category for 90 days. The free submission states that it would take over 4 months to get reviewed, so we do not recommend that option. They will also refund you $20.00 if your submission is declined.

Best of the Web: $29.95 Regular Sites and $49.95 Adult Sites (One Time Fee)
This one has a PR of 7 on the main page and many internal categories of PR 5. This is one of the oldest directories on the net and has been around since 1994.

Microsoft Bcentral Directory: $49.00 (Annual Fee)
The main page has PR 7 and most internal pages have high PR. The only problem with this one is that it lists 10 sites a page, so new submissions might end up on the bottom or last page which has the least PR. Before you submit, check the category that fits your site best and go to the last page to see if it has PR of at least 3.

 

automatic URL submission free

Yahoo SiteMatch Guaranteed Exclusion

You can submit your site to Yahoo/Overture Site match from our site.
Get listed in Yahoo, AltaVista, AllTheWeb, HotBot and others within 48 hours.

automatic URL submission free

3- New Google HTML Tag Disallows Link Spam

Google has launched a new NOFOLLOW tag to be used primarily for Blogs, Forums and Guest Book type sites that get a lot of link spam. This is to prevent spammers from getting credit on their links. The site owners need to implement this on their programs so that the tag gets inserted automatically.

The tag is in this format: rel="nofollow"

So for example, if your HTML link tag is as follows:
<a href="http://www.yahoo.com/">Yahoo</a>

Then you would do this:
<a href="http://www.yahoo.com/" rel="nofollow">Yahoo</a>

MSN and Yahoo are following suit and have already announced that they will support this tag.

Here is more info about it:
http://www.google.com/googleblog/2005/01/preventing-comment-spam.html

 

automatic URL submission free
WordTracker - Looking for the best keywords to use for your site?

WordTracker is a unique tool that combines keyword popularity with lateral searches and misspellings and matches these keywords with actual competition in several major search engines. This gives you a huge list of keywords sorted by popularity versus competition, so you know which keywords to target first. Try it out now at:

http://our.affiliatetracking.net/wordtracker/af.cgi?355

automatic URL submission free

4- About.com Purchased by New York Times

In the recent weeks there was a bidding war between Google, Yahoo, New York times and others to purchase About.com. New York Times ended up to be the winner at $410 million price tag in an all cash deal. About.com was part of Primedia, which originally purchased About.com in 2000 for $690 million. NY Times is looking to increase their online presence and this should be a very good deal for them. It should be interesting to see how NY Times will integrate About.com with their newspaper.

The Senior Vice President for Digital Operations at the New York Times was quoted saying: "Frankly, they bring a lot of competencies to us. They're the leaders in search-engine optimization."

It appears that he is really referring to great rankings about.com has for many of their pages, whereas NYT does not rank well due to their news pages expiring after one week. Wow, what a stupid reason to buy a company. NYT could have easily hired a search engine optimization company like us to get them great rankings and we would have charged less than a $1 million.

Here is a little more on the subject:
http://journalism.nyu.edu/pubzone/weblogs/pressthink/2005/02/20/abt_nyt.html

To read more about the about.com deal see below:
http://newyorkbusiness.com/news.cms?newsId=9963

automatic URL submission free

5- New MSN Search Finally Released with Mixed Reviews

In the first week of February MSN finally released its new search engine to the public and has started advertising heavily on TV. The new MSN Search has features such as the ability to search for local retailers, a toolbar that lets you search your own hard drive, and a feature to search by criteria such as the last time a site was updated.

The new site also has a lot of ads, including on top of regular search results on the right side and on the bottom.

"Now, we have our platform in place. We think it's super competitive to what's out there," said MSN search and shopping corporate VP Christopher Payne.

Prior to MSN launching its own engine the results used to come from Yahoo. Many welcomed the new engine, which was a much needed addition to increase the playing field from current monopoly by Google.

To read more about the new MSN Search see below:
http://www.clickz.com/experts/search/opt/article.php/3467021

For over a year now, MSN has been saying that they would be launching a new search engine to better compete with Yahoo and Google. Now for the first time, the public ge


automatic URL submission free

Is your site anywhere to be found in the search engines? Do you need to be in the top 10 of search engines, but don't know how? Are you tired of trying everything you possibly can and still are nowhere to be found?

If you need help getting your site in the top 10 of major search engines, please check out our search engine optimization services:
http://www.submitexpress.com/optimize.html

We guarantee results or your money back.

We can also give you free advice when you order our 75,000+ Search Engine Submission. We will visit your site and send you a list of suggestions on how to improve your rankings. See details at:
http://www.submitexpress.com/submit2500.html

Don't just submit your site to the search engines, Submit it Right .

automatic URL submission free

Submit Express
315 W Verdugo Ave, Suite 101
Burbank, CA 91502
Website: http://www.submitexpress.com

Past Issues of this Newsletter:
http://www.submitexpress.com/newsletters/

automatic URL submission free
Copyright 2004 Submit Express - No part of this newsletter may be copied or published without prior permission, but please feel free to forward this to all your friends as long as you keep it in its entirety.


--
Tribun Timur, Surat Kabar
Terbesar di Makassar
www.tribun-timur.com

Wednesday, February 20, 2008

Number of Transmitter Station of TVRI and Broadcasting power in Sulawesi Selatan, 2005

SUMBER: http://sulsel.bps.go.id/comm/comm_3.html


TVRI Sulawesi Selatan memiliki 13 stasiun transmisi sampai tahun 2005.

Number of Transmitter Station of TVRI and Broadcasting power in Sulawesi Selatan, 2005

No
Transmitter Station
Daya (Kw)
Channel/Power
Area of Service
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
1.
MAKASSAR
5
174 - 181 CH.4 Maros, Pangkep, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Selayar, Bulukumba barat dan Jeneponto
2.
GUNUNG LOKA (KAB.BANTAENG)
0,3
209 - 216 CH 9
3.
TANJUNG BUTUNG (KAB.BARRU)
0,3
188 - 195 CH 6 Barru, Pallaranro, Makadae
4.
GUNUNG MAKKADAE (KAB.SIDRAP)
1
209 - 216 CH 9 Sidrap, Wajo, Pare-pare, Pinrang, Polmas, dan Majene
5.
BARAKA (KAB. ENREKANG)
0,3
181 - 188 CH 5 Enrekang, Getengan
6.
BUNTU TABANG (KAB.TATOR)
0,3
202 - 209 CH 8 Rante Pao, Makale
7.
KANREAPIA (KAB.GOWA)
0,3
195 - 202 CH 6 Sinjai, Bone
8.
SENGKANG ( KAB.WAJO)
0,3
188 - 195CH 7 Bone Utara, Soppeng, Wajo
9.
PALOPO (KOTA PALOPO)
0,1
195 - 202 CH 7 Palopo dan Sekitarnya
10.
SOROAKO (KAB.LUWU UTARA)
1
174 - 181 CH 4 Soroako
11.
BUKIT ASSULI / SOROAKO
0,05
195 - 202 CH 8 Wawondula, Wassuponda
12.
SAMPODO
10
195 - 202 CH 8 Palopo, Belopa, Siwa
13.
RINDING ALLO (KAB. TATOR)
0,01
174 - 181 CH 4 Rinding Allo


--
Tribun Timur, Surat Kabar
Terbesar di Makassar
www.tribun-timur.com

DPRD Parepare: Banyak Televisi dan Radio Liar

SUMBER: http://www.tribun-timur.com/view.php?id=64891&jenis=Makassar
Rabu, 20-02-2008 | 17:50:24 
DPRD Parepare: Banyak Televisi dan Radio Liar
Laporan: Ridwan Putra, tribuntimurcom@yahoo.com
 
Parepare, Tribun - Anggota DPRD Parepare meminta wartawan yang melaporkan stasiun televisi kabel CTV Pare ke dewan dan polisi agar juga melaporkan stasiun televisi maupun radio yang tidak resmi. Sebab di Parepare banyak stasiun liar yang beroperasi. CTV dilaporkan karena tidak berizin.
 
"Ini tidak adil, masa hanya CTV yang dilapor sementara ada sejumlah stasiun siaran audio lain di Parepare yang juga illegal," kata anggota Komisi B Muhammad Haidir, beberapa menit lalu.

Politis PAN ini menilai, jika hanya CTV yang disoroti maka terkesan ada kepentingan sepihak sementara media audio lainnya di Parepare jelas-jelas ada yang tidak memiliki izin.

"Kalau perlu laporkan semua yang tidak memiliki izin. Seperti radio siaran di Parepare. Setahu saya, cuma ada dua yang memiliki izin resmi yaitu Radio GISS dan radio Mesra FM," paparnya.

Anggota dewan lainnya, Abd Rahman Saleh, mendesak pimpinan dewan agar menyelesaikan persoalan tersebut.(*)

Ada peristiwa menarik?
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233
email: tribuntimurcom@yahoo.com

Hotline SMS untuk berlangganan Tribun
Timur edisi cetak: 081.625.2266.
Telepon: 0411 (8115555). (lim)
 

Tuesday, February 19, 2008

Febric Fitriansyah wants to chat

-----------------------------------------------------------------------

Febric Fitriansyah wants to stay in better touch using some of
Google's coolest new
products.

If you already have Gmail or Google Talk, visit:
http://mail.google.com/mail/b-47724b57ed-113fdc4270-db879c8a3e52a6cc
You'll need to click this link to be able to chat with Febric Fitriansyah.

To get Gmail - a free email account from Google with over 2,800 megabytes of
storage - and chat with Febric Fitriansyah, visit:
http://mail.google.com/mail/a-47724b57ed-113fdc4270-dc9003cc4a

Gmail offers:
- Instant messaging right inside Gmail
- Powerful spam protection
- Built-in search for finding your messages and a helpful way of organizing
emails into "conversations"
- No pop-up ads or untargeted banners - just text ads and related information
that are relevant to the content of your messages

All this, and its yours for free. But wait, there's more! By opening a Gmail
account, you also get access to Google Talk, Google's instant messaging
service:

http://www.google.com/talk/

Google Talk offers:
- Web-based chat that you can use anywhere, without a download
- A contact list that's synchronized with your Gmail account
- Free, high quality PC-to-PC voice calls when you download the Google Talk
client

Gmail and Google Talk are still in beta. We're working hard to add new features
and make improvements, so we might also ask for your comments and suggestions
periodically. We appreciate your help in making our products even better!

Thanks,
The Google Team

To learn more about Gmail and Google Talk, visit:
http://mail.google.com/mail/help/about.html
http://www.google.com/talk/about.html

(If clicking the URLs in this message does not work, copy and paste them into
the address bar of your browser).

Makassar Kotor, Di Mana Petugas Kebersihan



Makassar Kotor, Di Mana Petugas Kebersihan



BEBERAPA pekan terakhir, pusat Kota Makassar terlihat sangat kotor. Sampah busuk berserakan di pinggir beberapa ruas jalan.
Beberapa saat yang lalu, sampah menumpuk di trotoar Jl Gunung Bawakaraeng, sekitar 50 meter dari traffic light.
Masuk ke Jl Cenderawasih, keadaan lebih parah. Tidak jauh dari kampus Akpar, sampah menumpuk di tepi jalan. Sampah juga terlihat persis di depan kampus Akpar.
Bergerak sedikit, persis di samping pintung gerbang lorong Baji Bicara, sampah menumpuk tak terangkut.
Sampah-sampah yang jorok itu bersaing dengan pemandangan baliho para calon wali kota.
Di Jl Andi Tonro, pengguna jalan tidak hanya dipusingkan oleh sampah yang berserakan setiap hari di luar kontainer sampah di samping kampus YPUP.
Kontainer sampah itu diletakan begitu saja setiap hari nyaris di tengah jalan sehingga kerap menjadi sumber kemacetan.

--
Kabar dari Makassar
www.tribun-timur.com

Saturday, February 16, 2008

Erick Thohir, tvOne, Republika, dan Obsesinya

Obsesi Erick Thohir, pengusaha muda salah satu pemilik tvOne. Simak!

http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=326448

Sabtu, 16 Feb 2008,

Orang-Orang Muda Pengelola Bisnis Pertelevisian di Tanah Air (1)

Kongsi Trio yang Berobsesi Tampil Unik
Erick Thohir yang dikenal sebagai Presdir Mahaka Group terus memperkuat bisnis medianya. Pria kelahiran Jakarta itu tercatat sebagai salah satu di antara orang-orang muda dalam bisnis pertelevisian. Bagaimana sebenarnya kiprah orang-orang muda di industri ini?

IWAN UNGSI-SUYUNUS R., Jakarta

PLENARY Hall di Jakarta Convention Center pada malam Valentine (14/2) itu terlihat ramai. Mobil-mobil memenuhi ruang parkir. Demikian pula, pengunjung, termasuk para menteri, artis, dan tokoh media, memadati balairung yang biasa digunakan pameran berskala internasional di kawasan Senayan itu.

Malam itu adalah perhelatan peluncuran tvOne, nama stasiun televisi yang sebelumnya bernama Lativi di bawah naungan PT Lativi Media Karya. Tiga sosok tampak terlibat dalam obrolan akrab. Mereka adalah Fofo Sariaatmadja (SCTV), Erick Thohir (tvOne), dan Anindya N. Bakrie (antv). "Kapan-kapan lunch bareng, ya?" kata Erick kepada kedua sejawatnya itu.

Erick adalah nakhoda baru televisi yang dahulu dimiliki pengusaha sekaligus mantan Menaker Abdul Latief itu. Ditemui di kantornya, PT Lativi Media Karya di Jalan Rawa Terate II/2, Kawasan Industri Pulogadung, Erick mau blak-blak kepada Jawa Pos tentang bagaimana awal dirinya menerjuni bisnis pertelevisian tanah air.

Suatu hari, kata Erick, dirinya bertemu dengan Anindya N. Bakrie dan Presdir Recapital Rosan P. Roslani. Erick dan Anindya bukan orang baru di bisnis media. Lewat PT Abdi Bangsa Tbk, Erick adalah pemilik harian Republika. Demikian pula, Anindya dikenal sebagai keluarga pemilik antv. Ketiga orang itu kemudian sepakat berkongsi membeli PT Lativi untuk membangun tvOne.

"Jadi, awalnya kami membentuk konsorsium yang diwakili saya (Grup Mahaka), Pak Anin (Anindya N. Bakrie, Grup Bakrie), dan Pak Rosan (Presdir Recapital Rosan P. Roslani)," katanya.

Dalam konsorsium itu, mereka berbagi tugas. Anin dan Rosan fokus ke masalah keuangan dan capital market. "Sedangkan saya lebih ke orang kerja aja. Orang yang day to day di industri medianya," ujar Erick yang juga pemilik radio One.

Tidak sedikit kocek yang harus dirogoh untuk mengakuisisi saham PT Lativi Media Karya dari pemilik lama. Erick menyebutkan angka Rp 1,3 triliun untuk mengubah Lativi menjadi tvOne. "Angka itu termasuk membayar utang ke Bank Mandiri," jelasnya.

Erick mengakui, mereka bertiga bermimpi membentuk suatu perusahaan media bersama yang unik. "Tidak hanya unik, tapi juga harus berkembang. Unik doang kalau gak berkembang buat apa kan," kata pria kelahiran 30 Mei 1970 yang juga president of Southeast Asian Basketball periode 2006-2010.

Tidak takut ketatnya bisnis televisi? Pemilik koran Republika itu menilai, banyak perbedaan antara dunia koran dan televisi. Meskipun, prinsip-prinsip jurnalisme keduanya tidak banyak berbeda.

"Banyak bedanya. Contohnya, kalau koran terbit harian, di TV itu kan tiap detik dan menit. TV itu lebih kompleks daripada koran," kata suami Elizabeth T. Thohir itu.

Menurut dia, koran dan TV adalah masalah kreativitas sumber daya manusia. Namun, di televisi masalah broadcast lebih ke segi teknik. Hal yang lain, dalam bisnis TV memang lebih berdarah-darah dalam proses modal awal. "Secara dana, pasti lebih besar TV dan secara operasional lebih kompleks TV," kata Presdir PT Trinugraha Food Industri, perusahaan pemilik brand Hanamasa, Pronto, dan Ya Kun Kaya Toast, itu.

Namun, lanjut Erick, beberapa aspek dalam jurnalisme koran bisa diimplementasikan ke TV. Misalnya, kecakapan menulis berita. "Di televisi itu tetap terpakai. Reporter TV harus bisa menulis. Itu juga sangat dibutuhkan," katanya.

Alumnus MBA jurusan marketing dari National University California, Amerika, itu mengatakan bahwa kalau orang koran ke bisnis TV, banyak yang bisa digunakan sebagai nilai tambahnya. Meski demikian, bukan berarti Erick sama sekali tidak pernah punya pengalaman di bisnis pertelevisian. Selain Republika dan berbagai media cetak, dia mengelola Gen-FM Jakarta, 101 FM Jakarta, dan Jak TV.

Keputusan berkongsi dengan Anindya N. Bakri yang sudah memiliki antv juga bukan tanpa pertimbangan. Erick tidak khawatir terjadi overlapping dengan antv. "Berbeda konsepnya. Sebab, antv kan general entertainment. Di situ Pak Anin dengan Star TV. Sedangkan di sini (tvOne, Red) lebih fokus pada news dan sportstainment," kata wakil presiden Hipmi periode 2005-2008 itu.

Logo tvOne juga penuh nilai-nilai filosofi yang ingin diusung pemiliknya. Warna merah putih menggambarkan Indonesia, sedangkan bulatan menggambarkan persatuan. "Kata One sendiri digunakan untuk membangkitkan motivasi untuk menjadi nomor satu. Jadi, secara individu maupun korporat harus menjadi nomor satu," paparnya.

Perubahan brand tvOne tidak hanya mengubah nama, tapi juga mengubah positioning yang sebelumnya memiliki SES (socio economic status) CDE (menengah bawah) menjadi ABC (menengah atas)

"Kami akan meninggalkan seks, horor, dan darah-darah yang tidak perlu. Jadi, punya platform yang berbeda. Program-program juga harus berubah total," lanjutnya.

Menurut dia, target untuk meraih share audience di atas 10 persen sangat mungkin tercapai. Sedangkan untuk rating, Erick mengakui bahwa angka 4-5 saja sudah cukup bagus. "Rating TV ini tidak akan tinggi karena bukan general entertainment TV. Ya, seperti TV menengah, kayak Global (Global TV)-lah. Tapi, image kami kan berbeda. Image kami akan lebih tinggi," tambah ayah empat orang anak itu.

Karena dipunggawai orang-orang yang mengerti tentang pasar modal, pertengahan tahun ini PT Lativi Media Karya ditargetkan masuk pasar modal (IPO). Dana masyarakat itu akan digunakan untuk menambah modal kerja dan terus memperlebar penetrasinya.

Industri televisi di Indonesia akan semakin berkembang pada masa-masa mendatang. Dalam jangka menengah panjang, menurut Erick, akan terjadi konsolidasi dari berbagai pelaku industri tersebut. Itu akan terjadi tidak hanya di industri televisi, tapi juga di Industri media secara menyeluruh.

"Pers yang survive adalah pers yang dikelola secara bisnis. Walaupun, tanpa meninggalkan nilai-nilai pers itu sendiri. Yaitu, mesti fair dan mendahulukan public opinion daripada owner opinion," papar Erick.

Mengapa bos-bos televisi saat ini dipimpin jajaran eksekutif puncak yang berusia relatif muda, Erick menilai bahwa hal itu merupakan tuntutan alami industri. "Media dengan segala perubahan zaman akan menjadi bisnis anak muda atau paling tidak yang berjiwa muda. Sebab, bisnis ini sangat berbasis inovasi dan kompleks. Suka nggak suka, memang tidak mudah mengelola bisnis ini," katanya. (el)

Favorite site: www.tribun-timur.com

Friday, February 15, 2008

Kepedulian Sosial di Hari Valentine

Sabtu, 16-02-2008
Kepedulian Sosial di Hari Valentine
Oleh
Ulfiani Rahman
Anggota kelompok diskusi Menara Ilmu

Jika hari valentine sudah disiapkan dengan segudang rencana yang hanya menyenangkan sesaat, marilah mencoba melakukan perayaan valentine tahun ini dengan penuh kepedulian kepada sesama sebagai bentuk luapan kasih sayang dengan berbagi secara moril ataupun materil


Sudah sejak lama sebagaian masyarakat dunia menggandrungi perayaan hari berkasih sayang sebagai hari yang dinanti-nantikan. Terutama bagi kawula muda-mudi. Tetapi tidak menutup bagi mereka yang berusia tidak muda lagi. Bahkan tradisi ini tidak hanya disambut oleh mereka yang berada diperkotaan saja, tetapi juga bagi mereka yang berada di pedesaan.

Sabtu, 16-02-2008
Perdagangan Wanita
Salam Tribun
 
KEDUTAAN Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur dan Polisi Kuala Lumpur berhasil membongkar perdagangan manusia untuk menjadi pelacur di beberapa hotel di Kuala Lumpur. Sebanyak enam wanita Indonesia berhasil diselamatkan dari bisnis haram itu.
Komisaris Besar Polisi Setyo Wasisto SH, petugas penghubung Polri di KBRI Kuala Lumpur, Rabu (13/2), mengungkapkan, Satgas KBRI bersama polisi Kuala Lumpur menemukan enam wanita Indonesia itu saat melakukan penggerebekan di Hotel Malaya, Kuala Lumpur.
Perdagangan wanita merupakan kejahatan transnasional yang terorganisasi, di samping penyelundupan orang, perdagangan narkoba dan penyelundupan senjata. Perdagangan wanita sering melintasi batas-batas teritorial negara. Namun, tak selamanya perdagangan orang harus melintasi batas negara.

Jumat, 15-02-2008
Paradigma Pendidikan Islam dalam Masyarakat Plural
Oleh
Arhanuddin Salim
Mahasiswa Program Pasca Sarjana UIN Alauddin Makassar

Untuk mau berbagi kemanusiaan, maka pendidikan Islam perlu memahami eksistensi umat agama lain sebagai sesama makhluk Tuhan dengan dialog dan toleransi. Dialog merupakan konsekuensi dari keberagamaan dalam kehidupan masyarakat yang plural

Kecenderungan kekerasan bernuansa agama, juga konflik etnik yang makin kental di beberapa bagian wilayah Indonesia, makin mengancam keberadaan masa depan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat yang dikenal sangat majemuk ini. Kekerasan tersebut tentu saja tidak boleh berkembang dan dibiarkan sedemikian rupa. Ini tidak dapat dilepaskan dari upaya setiap elemen bangsa untuk mencari jalan keluar dari ancaman konflik agama dan etnik.

Jumat, 15-02-2008
Bank untuk UMK
Salam Tribun
 
KEBIJAKAN dunia perbankan, sampai saat ini, belum sepenuhnya berpihak kepada dunia usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM. Jumlah usaha mikro, kecil, menengah yang sudah menikmati kucuran kredit untuk mengembangkan usaha masih terbilang sedikit.
Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan UMKM, Fadjar Sofyar, mengungkapkan di Jakarta, dari sebanyak 48,9 juta usaha mikro kecil menengah yang tersebar di Indonesia, baru 19,1 juta yang bisa mengakses kredit perbankan. Sebanyak 29,8 juta usaha mikro kecil menengah tetap menggantungkan harapan mendapat kredit pada sektor informal.
Kendala untuk memperoleh kredit perbankan antara lain sulitnya memperoleh jaminan kredit dan terbatasnya lembaga penjamin kredit koperasi dan usaha kecil. Begitu pula regulasi bank dalam menilai kredit, di antaranya aspek jaminan. Manajemen dan administrasi UMKM juga kurang memadai sehingga menyulitkan evaluasi kelayakan usaha maupun kinerja keuangannya.

Kamis, 14-02-2008
Inovasi Media Sebagai Keharusan
Opini Tribun
 
Oleh: Aswar Hasan, Ketua KPID Sulsel

Pada tahun 1990 Bill Gates meramalkan, 10 tahun lagi (tahun 2000) surat kabar tercetak akan mati. Tetapi setelah sepuluh tahun berselang, pendiri Microsoft tersebut, kembali merevisi prediksinya, kemungkinan sekitar 50 tahun lagi ke depan, ramalannya akan mewujud.

Kamis, 14-02-2008
Kerusakan Terumbu
Salam Tribun
 
SUMATERA Barat atau Sumbar mengalami kerugian 90,55 juta dolar AS, sekitar Rp 815 miliar setahun akibat kerusakan 34 persen kawasan terumbu karang di perairan lautnya. Jika dihitung kerusakan terumbu karang pada seluruh perairan laut Sumbar yang berhadapan dengan lautan Samudera Hindia nilai kerugian akan lebih besar.
Peneliti kelautan dan perikanan dari Program Pasca Sarjana Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Bung Hatta, Indrawadi mengungkapkan di Padang, Minggu (10/2),
nilai kerugian jauh di atas keuntungan dari tindakan eksploitasi kekayaan laut dengan cara merusak terumbu karang seperti menggunakan bom ikan atau racun.


www.tribun-timur.com
Harian Tribun Timur, Makassar (Sulawesi Selatan, Indonesia)


Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

LinkWithin